RSS

Bekerja Sama Naikkan Perekonomian Bangsa

30 Mar

Dalam upaya meningkatkan perekonomian bangsa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diperlukan kerja sama yang baik dari seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan termasuk di dalamnya pemerintah, pemilik usaha dan modal serta para tenaga kerja.

“Kemitraan yang baik antara pekerja dan pengusaha tentu akan memberikan manfaat dan keuntungan yang tinggi bagi seluruh pihak, diantaranya dapat membangkitkan kembali dunia usaha yang pada akhirnya menumbuhkan perekonomian Indonesia,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan acara Musyawarah Nasional ke VIII, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), yang digelar di Istana Negara Jakarta, Rabu (26/03).

Bisa dibayangkan, jika dunia usaha di Indonesia kembali unjuk gigi maka akan semakin banyak terbukanya lowongan pekerjaan bagi masyarakat. Sehingga, akan memengaruhi tingkat pengangguran di Indonesia yang merupakan salah satu petunjuk tingkat kesejahteraan masyarakat.

Bahkan, pemerintah pun akan diuntungkan dengan kembali berkembangnya dunia usaha di Indonesia. “Dengan banyaknya dunia usaha, maka akan semakin banyak pula pajak yang akan dibayarkan ke pemerintah. Dan Insya allah dengan pajak itu pula pemerintah dapat mengelola APBN dengan lebih baik lagi untuk kemudian disalurkan ke pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan (membantu) masyarakat miskin,” kata Presiden.

Untuk itulah, Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi mengatakan sebagai langkah awal dukungan pengusaha atas upaya pemerintah menyejahterakan masyarakat, dalam musyawarah nasional yang diadakan tahun ini akan difokuskan pada peningkatan investasi di dan ke Indonesia.

Menurut Sofjan, saat ini setidaknya ada dua hal yang membebankan para investor baik di dalam maupun dari luar negeri untuk menanamkan investasinya di Indonesia. Adalah ketidakpastian hukum dan perselisihan antara pengusaha dan tenaga kerjanya. “Selama ini, di tengah-tengah pengusaha dan tenaga kerja selalu ada kotak-kotak pemisah, padahal keduanya saling bergantung dan tidak dapat terpisahkan,” ujar Sofjan.

Menurutnya, dalam aktivitas perekonomian pengusaha tetap membutuhkan pekerja, tidak bisa hanya dengan siapnya dukungan modal dan keberadaan pabrik. Begitu sebaliknya dengan pekerja, meski mereka ulet dan siap kerja tetapi bila tidak didukung dengan ketersediaan lowongan pekerjaan maka yang terjadi adalah seperti yang kita lihat selama ini. Banyaknya mahasiswa lulusan universitas terbaik yang menganggur karena tidak seimbangnya antara jumlah lulusan dengan lowongan yang ada.

“Tanpa pengusaha, buruh tidak ada, sebaliknya buruh tanpa pengusaha juga tidak akan ada,” kata Sofjan.

Untuk mempercepat penyelesaian perselisihan antara pekerja dan pengusaha itu, maka sejak tahun lalu Apindo telah membentuk dua tim serikat kerja yang fungsinya, pertama untuk membantu percepatan penyelesaian berbagai kasus perselisihan antarpekerja dan pengusaha. Kedua, berfungsi untuk segera menyelesaikan undang-undang yang terkait tenaga kerja.

“Untuk UU, kita sudah mulai membahas tentang Jamsostek yang akan diikuti dengan UU serikat kerja. Baru kemudian diikuti dengan penyelesaian UU PHI (Pengadilan Hubungan Industrial) dan terakhir UU No 13 tahun 2003 tentang tenaga kerja,” ujarnya.

Investasi 2007 Terbaik

Terkait besar investasi di Indonesia, Presiden mengatakan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya maka realisasi investasi di Indonesia telah mengalami peningkatan berdasarkan data tahun 2007.

“Realisasi investasi tahun 2007 adalah yang terbaik sejak tahun 2000. Realisasi PMA dan PMDN 2007 mencapai Rp135 triliun, jauh melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp114 triliun,” papar Presiden.

Tetapi, menurut presiden keberhasilan itu tentulah belum cukup. “Kita harus mengundang lagi investor, tetapi utamakan investor dalam negeri baru kemudian kita mengajak partner investor dari negara lain,” tutur Presiden.

Bersamaan dalam kesempatan itu, Presiden juga mengungkapkan bahwa kini ia telah menambahkan satu kebijakan penting yang mampu mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, yang dituangkan dalam triple track strategy. Kebijakan tersebut adalah pro business, yang akan melengkapi pro growth, pro poor, dan pro job.

Suci Dian (diterbitkan di Jurnal Nasional)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2008 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: