RSS

Artis Hollywood

18 Feb

Sylvester Stallone:
Rambo Kembali Beraksi
Bagi mereka penggemar film Rambo, tentu dikejutkan dengan kehadiran sekuel Rambo ke empat yang baru saja dilucurkan di Amerika awal tahun ini. Pasalnya, tidak banyak yang mengira film yang pertama kalinya diluncurkan tahun 1982 itu akan kembali meluncurkan sekuel barunya.

Rambo dikenal sebagai salah satu karakter utama di dalam film aksi yang dibintangi oleh Sylvester Stone, yang ceritanya diambil berdasarkan karakter tokoh di novel David Morell yang berjudul First Blood.

Melihat tingginya animo masyarakat akan karakter Rambo yang identik dengan ikat kepala dan pisau perangnya itu, akhirnya produser diluncurkan dua sekuel yakni Rambo: First Blood part II (1985) dan Rambo III (1988). Kini, pada tahun 2008, kembali diluncurkan sekuel terbaru Rambo dengan judul Rambo, yang bercerita tentang aksi John James Rambo menyelamatkan sejumlah tawanan perang di perang Vietnam.

Berikut petikan wawancara Sylvester di dalam konferensi pers mengenai film terbaru yang membesarkan namanya ini, seperti yang diintisarikan dari media about.com:

Berbedakah Rambo kali ini dengan sebelumnya?

Saya rasa memang ada sedikit perubahan pada karakter Rambo kali ini. Terutama karena sekarang saya sudah bertambah tua sehingga tidak bisa segesit dahulu. Belum lagi dengan masalah berat dan bentuk tubuh yang tidak seideal dahulu. Ingatannya juga sudah mulai memudar.

Itulah mengapa sutradara menyisipkan sifat-sifat alami ini pada karakter Rambo kali ini. Jadi jangan heran jika di awal film, Anda akan menemukan Rambo berbeda dari sebelumnya. Terlihat seakan-akan ia putus asa atas hidupnya dan tidak memiliki apa pun. Ia sangat kesepian.

Dahulu, karakter Rambo terlihat begitu penuh energi. Bukan bermaksud menyombongkan diri, tetapi energi itu juga menular ke diri saya pribadi. Bagaimana pun saya sangat menyukai Rambo di dalam film pertamanya dan juga karakternya kali ini. Sama halnya dengan saya menyukai cerita tentang Rocky dan di dalam film terakhirnya Rocky Balboa. Karena semuanya memancing keingintahuan saya yang besar.

Apa pandangan Anda tentang aksi kekerasan di dunia nyata?

Film ini cermin dari dunia nyata dan saya harus hidup dengan tanggung jawab bahwa selama pembuatan film ini masih banyak orang yang sekarat dan akhirnya mati sebagai korban dari naluri perang segelintir orang. Setidaknya melalui film ini saya bisa memahami apa yang mereka rasakan dan lalui di dalam perperangan itu. Lagi pula saat ini hanya itu yang saya mampu untuk lakukan.

Di dalam film ini kita juga melihat bagaimana perang dapat menghancurkan hidup seseorang dan keluarganya. Bagaimana perang bisa membinasakan satu desa. Jangan dikira itu tidak terjadi, karena itu benar adanya. Bahkan, kenyataannya yang terjadi bisa lebih buruk dari yang dilihat di film.

Bagaimana pun sumber kekerasan di dunia ini karena manusia sudah kehilangan rasa kemanusiaannya dan itu menjadi topik pembicaraan yang tidak akan habis-habisnya dibicarakan. Seperti yang dikatakan Shakespeare, perperangan ini hanyalah antara manusia dan manusia. Toleransi di antara mereka yang bisa menyelamatkan.

Bagaimana kondisi lokasi pengambilan gambar?

Haha…, sangat lucu Anda menanyakan itu. Karena lokasi pengambilan gambar itu benar-benar seperti neraka. Saya dan kru terpaksa memasuki kawasan di Burma yang sangat sensitif begitu pula dengan warganya. Mereka benar-benar sensitif dengan penggambaran mereka.

Terutama di kawasan Mae Sai di mana banyak warganya yang hilang. Situasi di sana benar-benar serius. Kami pun terpaksa berpindah lokasi pengambilan gambar jauh ke Utara agar terhindar dari konflik.

Uniknya, kawasan yang digunakan untuk pengambilan gambar benar-benar belum terjamah. Bahkan kami kerap menggunakan gajah sebagai kendaraan untuk pindah lokasi. Berhari-hari kami menghabiskan waktu di sungai. Tetapi itu tidak masalah, hitung-hitung untuk lebih memperdalam karakter Rambo yang hidupnya lebih keras lagi.

Apa yang mendorong Anda untuk memilih zona perang itu?

Hmm, sebenarnya tidak ada alasan yang kuat terlebih lagi kawasan itu merupakan tempat yang terbrutal di dunia. Tahukah Anda jika Burma membayar Amerika hanya demi menutup segala kekacauan di negara itu? Hal ini benar-benar mencengangkan dan saya merasa tempat ini sangat cocok menjadi lokasi pengambilan gambar untuk film Rambo selanjutnya. Karena ia juga sudah kehilangan sisi kemanusiaannya.

Sebelumnya saya sempat berpikir untuk menjadikan Irak atau Afghanistan sebagai lokasi pengambilan gambar. Tetapi, bukankah di film ini karakter Rambo sebagai seorang pahlawan fiksi yang datang ke suatu wilayah yang kacau dan menyelesaikannya? Nah, hal itu tidak mungkin dapat kita lakukan dengan kedua negara itu, akan lebih nyata jika di lakukan di Vietnam.

Apakah Anda menggunakan pemeran pengganti?

Bisa dikatakan hampir saja. Hahaha…karena pada satu pengambilan gambar di mana Rambo harus meloncat dari atas bukit karena ledakan, tidak mungkin saya lakukan dengan faktor usia yang bertambah tua. Tetapi, saya juga merasa bersalah karena pengganti saya itu hampir saja tewas. Anda harus melihat cuplikan gambar di balik layar, karena banyak sekali kecelakaan dalam pembuatan film ini.

Sulitkah mengangkat rating film ini?

Awalnya saya merasa pesimistis dengan film ini karena menampilkan berbagai aksi kekerasan dan kematian. Saya sempat berpikir, “film ini tidak mungkin berlanjut,” tetapi bagaimana pun ia harus terus berlanjut.

Untuk meyakinkan para kritikus film saya hanya mengatakan, “Guys, hal ini terjadi setiap hari. Kita sebagai seniman juga punya tanggung jawab untuk menunjukkan kepada orang-orang tentang apa yang terjadi sesungguhnya dalam bentuk seni, hanya untuk membangun kewaspadaan mereka. Karena hal ini akan memberikan dampak bagi kehidupan mereka, jangan tutup mata dan telinga Anda untuk mereka”.

Hasilnya, mereka mengizinkan saya untuk membawakan cerita ini dengan sebaik-baiknya.

Tantangan selama pembuatannya?

Tersulit adalah untuk tidak terlarut dalam konflik mereka dan mencoba untuk hidup. Nyawa di sana dinilai sangat murah. Di mana-mana ada saja mayat warga yang mati tertembak. Bahkan, polisi-polisi di sana menyimpan banyak rahasia dan mereka tidak ambil peduli dengan apa yang terjadi di sana. Bahkan, kala mereka melihat secara langsung transaksi obat-obatan terlarang antara orang Burma dengan warga yang ada di seberang sungai. Mereka sama sekali tidak bertindak.

Lebih sulit mengarahkan film Rambo atau Rocky?

Jujur saja, keduanya sangat sulit, termasuk proses pengeditannya. Sebelumnya saya berharap dengan pembuatan film Rocky akan lebih mudah lagi untuk memproduksi Rambo. Ternyata saya salah karena saya ingin menampilkan cerita yang lebih brutal dan hidup, dan itu sangat sulit. Belum lagi dengan pemilihan karakter-karakter pendukung untuk lebih menghidupkan, musik, busana, dan masih banyak lainnya. Intinya, keduanya sama sulitnya.

Adakah Rocky akan melanjutkan sekuel terbarunya seperti Rambo?

Oh tidak, tidak. Saya sudah sangat beruntung dengan hasil film Rocky yang terakhir. Saya tidak bisa lebih baik dari itu. Film Rocky yang terakhir bagi saya merupakan keajaiban meskipun ia sudah selesai. Saya sudah sangat lega, karena masa-masa itu adalah yang terbaik. Pada awalnya saya hanya ingin agar film ini berakhir sesuai dengan pesannya dan saya sangat beruntung karena pesan itu sampai dengan baik di para penonton.

Suci Dian H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2008 in entertainment

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: