RSS

18 Feb

Perdagangan RI-RRT Lampaui Target Target pertumbuhan perdagangan antara Indonesia dan China sebesar US$20 miliar untuk tahun 2008 telah berhasil terlampaui. Demikian menurut Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Sudrajat, seusai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (11/02) pagi, di kantor Presiden.

“Berkat kerja keras dari kedua belah pihak, target (perdagangan,Red) sebesar US$20 miliar yang ditetapkan baru akan dicapai tahun 2008 telah tercapai tahun 2007 ini. Bahkan terlampaui menjadi sebesar US$25,01 miliar,” kata Sudrajat.

Berita itu tentu saja ditanggap positif oleh Presiden. Bahkan pada tahun 2010, Presiden mengatakan telah menargetkan pertumbuhan perdagangan sebesar US$30 miliar yang juga telah disetujui oleh Presiden RRT Hu Jintao. “Insya Allah, target tersebut akan tercapai pada tahun 2009, jika melihat dari rata-rata persentase perdagangan tahun lalu yang mencapai 31 persen,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sudrajat juga melaporkan kepada Presiden bahwa impor dari China ke Indonesia pada tahun 2007 telah mencapai nilai sebesar US$12,6 miliar, sementara untuk ekspor mencapai US$12,4 miliar. Dengan demikian ada selisih sekitar US$200 juta.

“Setelah kita analisis, ternyata selisih tersebut muncul karena terlalu banyaknya kita mengimpor capital goods, seperti mesin-mesin dan lainnya. Namun Presiden mengatakan bahwa itu tidak terlalu mengkhawatirkan karena ini sebenarnya untuk rencana investasi yang akan datang,” katanya.

Sedangkan ekspor Indonesia ke China sebagian besar berbentuk bahan baku, seperti bahan kimia, kosmetik, komponen elektronik, dan sebagainya. “Yang terbesar adalah minyak bumi, gas, dan minyak sawit,” lanjutnya.

Sementara itu, terkait masalah politik, keamanan, dan pertahanan antardua negara tersebut Sudrajat melaporkan bahwa sejak dicanangkannya hubungan kemitraan strategis antara Indonesia dan China pada tahun 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Hu Jintao, telah dicapai sejumlah langkah konkret.

Diantaranya terkait isu-isu yang berhubungan dengan masalah kedaulatan kedua negara misalnya prinsip Indonesia untuk tetap menganut one China Policy di mana tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan. “Pihak China telah dipahamkan dan memahami bahwa Indonesia sangat konsisten dalam menjalankan kebijakan One China Policy tersebut, dan sudah menjadi komitmen bagi Republik Indonesia,” jelas Sudrajat.

Sejumlah kerja sama juga telah dijalin Indonesia-China terkait bidang pertahanan dan ketahanan tersebut, seperti pelaksanaan pendidikan, pelatihan dan pertukaran perwira militer. “Bahkan, keduanya akan merintis joint production manufacture alat-alat pertahanan,” kata Sudrajat.

Menurut Sudrajat, sebagai tahap awal, Departemen Pertahananan akan membeli tank dan meriam, sementara China akan membeli peluru kendali dari Pindad dan alat pengendalinya yang akan bekerja sama dengan BPPT. “Dalam kerjasama ini, Indonesia hanya akan membeli Komponennya saja, sedangkan perakitannya dilakukan di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, isu yang paling menonjol dalam pertemuan Sudrajat dengan Presiden yang kala itu didampingi oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wairajuda dan Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal, adalah isu masalah ekstradisi.

“Saat ini Indonesia dan China akan menandatangani perjanjian ekstradisi, namun masih menunggu waktu yang tepat agar kedua Menteri Luar Negeri dapat bertemu. Rencananya akan dilakukan pertengahan tahun ini. Sementara itu, draf perjanjiannya sudah selesai.”
Ia menambahkan, di dalam perjanjian ekstradisi itu nantinya akan banyak dibahas mengenai penanganan tersangka buronan dari masing-masing negara, penanganan kasus serta pengembalian aset recovery. “Perjanjian ekstradisi ini tentunya merupakan salah satu upaya pencegahan Indonesia dan China agar tidak menjadi save haven bagi para pelaku kejahatan yang melarikan diri,” jelasnya.

Sementara untuk kerja sama dibidang turisme, Sudrajat melaporkan pada tahun lalu setidaknya terdata 230 ribu wisatawan dari China berkunjung ke Indonesia. Untuk tahun ini ditargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 300 ribu wisatawan. n Suci Dian Hayati/Yanuar Jatnika

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2008 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: