RSS

tokoh

11 Feb

Sumijan bin Kemis:

Es Teler dan Korupsi

Jika melihatnya menggunakan setelan jas dan menenteng Nokia 9300, tentu tidak akan ada yang menyangka jika ia berprofesi sebagai penjual es teler. Begitulah kali pertama penulis bertemu dengan Sumijan bin Kemis, salah seorang penerima penghargaan Tiga Pilar Award 2007 yang dikeluarkan oleh Tiga Pilar Kemitraan (3pK), atas dedikasinya yang tinggi memberantas korupsi.

Tiga pilar Kemitraan adalah suatu organisasi paguyuban yang beranggotakan beberapa pihak yang memiliki kepentingan yang sama, yakni mengupayakan terwujudnya Indonesia yang bersih, Transparan, dan Profesional (BTP) serta bebas dari aksi suap dan korupsi. Organisasi ini diprakarsai salah satunya oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN).

sumijan bin kemis, pahlawan antikorupsi oleh 3pK


Bagi Anda yang mengikuti perjalanan kasus-kasus korupsi di Indonesia, bisa jadi sudah pernah mendengar nama Sumijan. Pria berkulit hitam dan berambut cepak ini, disebut-sebut setelah berhasil membuat sejumlah pejabat kota Bontang, baik ditingkat DPRD ataupun pemda, mengakui tindakan korupsi yang mereka lakukan secara pribadi di depan media massa.

Tetapi, tentu tidak mudah bagi Sumijan untuk menundukkan para pejabat tersebut. Bahkan, menurut pengakuan pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur pada tahun 1964 silam itu, ia harus merelakan kehidupannya terancam setiap hari hanya untuk membantu program negara menumpas habis korupsi. Berikut petikan wawancara eksklusif Jurnal Nasional dengan Sumijan seusai menerima penghargaan:

1.      Bagaimana awalnya sampai terjun memperjuangkan anti-korupsi?

Saya ini kan penjual es teler, mbak. Jadi awalnya suatu hari saya disuruh berhenti jualan, disuruh ikut rapat di RT. Katanya untuk membahas beberapa hal yang mempertaruhkan hidup semua orang di kampung. Ya, saya ikut.

Ternyata tidak berhenti di RT saja, saya malah diajak ikut rapat juga di kelurahan. Isinya waktu itu, untuk membicarakan tentang visi dan misi kota selama lima tahun ke depan. Awalnya saya pikir, hidup kita ini ya tanggung jawab kita sendiri. Jadi cari duit sendiri ya untuk hidup sendiri.

Tetapi setelah tahu itu, ternyata pemerintah juga ikut bertanggung jawab. Bayangkan mbak, ternyata hidup seluruh masyarakat di kota Bontang bergantung pada perputaran uang APBD yang jumlahnya mencapai Rp1 triliyun itu.

Wah itu tidak sedikit, apalagi menyangkut hidup anak-anak kita. Bisa-bisa kalau tidak dikelola dengan baik, jujur dan arif, hidup anak-anak kita bisa melarat. Intinya, dana itu harus bisa membantu masyarakat agar terfasilitasi seluruh kegiatannya, ikut termotivasi untuk menyejahterakan dirinya dan keluarga dan juga memberikan kemudahan.

Tetapi, itu juga tidak berhenti di situ saja. Saya lalu diangkat untuk menjadi ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) di desa Berbas pantai Bontang, Kaltim pada tahun 2002. Diikuti dengan menjadi wakil ketua LPM tingkat kecamatan Bontang Selatan.

Saat itu saya sempat beberapa kali mengikuti pelatihan, seminar, dan lokakarya baik di tingkat daerah maupun nasional yang diselenggarakan oleh program CDS (City Development Strategies). Hingga akhirnya saya menjadi relawan sebagai koordinator Tim Kerja Stakeholders Kota dalam program tahun 2003 CDS, guna mewujudkan visi kota Bontang untuk menyiptakan Good Governence.

2.      Pernah mengalami ancaman selama beraksi?

Saya juga bertanya-tanya, mengapa di negara hukum ini mengadukan orang yang diduga korupsi malah harus diintimidasi, diteror, diancam, dipukuli dan dijadikan pesakitan. Bukankah semua sepakat bahwa saksi pemberi informasi penting harus dilindungi.

Tetapi kenyataannya, mbak, semenjak saya melaporkan walikota Bontang terkait kasus dugaan penyimpangan proyek dana alokasi khusus, dana reboisasi di Polres Bontang tanggal 22 April 2003 dan kasus dugaan korupsi dana penunjang operasional walikota Bontang ke KPK pada 31 Januari 2005.

Hidup saya dan keluarga menjadi tidak tenteram dan terancam setiap harinya sampai saat ini. Bahkan, saya sudah kehilangan harta benda saya, baik itu mobil atau pun rumah yang hancur akibat diserang.

Apapun alasannya rasa-rasanya tidak ada yang melindungi saya sebagai saksi pelapor kaus dugaan korupsi walaupun saya telah memohon perlindungan kepada para pihak terkait di Bontang. Bahkan, kini saya terancam hukuman penjara untuk kasus pencemaran nama baik terkait pengaduan saya itu. Saya ini tidak ada yang membela, mbak. Saya sendirilah yang membela diri sendiri.

3.      Tidak takut ditahan?

Saya bukan hanya diancam akan ditahan, mbak. Tetapi juga akan di deportasi. Mereka pikir saya takut, tetapi saya sama sekali tidak takut. Karena saya yakin, jika kita bekerja untuk menyenangkan-Nya dan memperjuangkan keberadaan-Nya, tentu akan selalu dibantu.

Lagi pula sudah tidak ada yang saya khawatirkan bila toh nantinya saya jadi dipenjarakan. Istri sudah saya beri pekerjaan yang bisa membantu perekonomian keluarga tetap hidup. Anak saya satu juga sudah menikah dan perekonomiannya sudah stabil, sedangkan yang satu lagi sekarang sedang kuliah di semester enam. Jadi, intinya tidak ada masalah.

4.      Tanggapan keluarga?

Biasanya mereka yang ingin memperjuangkan sesuatu dengan risiko hidup keluarga terancam, kebanyakan memilih mundur. Tetapi tidak dengan saya. Bahkan, kenyataannya istri saya yang tidak pernah sekolah itu terus mendukung aktivitas saya memberantas korupsi di negara ini.

Di dalam setiap persidangan saya, istri saya selalu datang mendampingi. Pernah dalam beberapa kali ia ditanya wartawan, apa tidak takut jika suaminya dipenjara? Istri saya jawab apa coba?

Dengan mantap dia bilang, “saya tidak takut dan malu jika suami saya ditahan, karena dia ditahan bukan karena mencuri ataupun membunuh orang, tetapi karena ingin memberantas korupsi”. Mendengar itu saya langsung menangis, mbak, di ruang persidangan.

5.      Apa yang membuat Anda bertahan?

Dari awal saya berjuang memberantas aksi KKN sejak tahun 2001, betul-betul saya niati murni karena Allah SWT, selain sebagai tanggung jawab moral saya atas nasib rakyat yang sudah diamanatkan ke saya. Jadi, biarkan saya bekerja untuk Tuhan, karena saya yakin jika saya membelanya maka ia juga akan membela saya.

Perlu juga diketahui, bahwa keberadaan saya sesungguhnya adalah produk kebijakan resmi pemerintah kota Bontang yang memiliki visi untuk menciptakan good governance. Itu tidak mungkin bisa dibantah oleh siapa pun.

6.      Apa yang ingin disampaikan kepada pemerintah?

Sudah saatnya peraturan disiplin ditegakkan tanpa pandang bulu. Akan tetapi jangan sampai penegakan peraturan disiplin tersebut mengurangi hak aparat hukum untuk menindang anggota-anggota pemerintah jika mereka melakukan tindakan pidana.

Tanpa ada penegakan peraturan yang dilakukan secara konsisten maka kasus-kasus korupsi dan pelanggaran hukum lainnya yang melibatkan pejabat akan terus terjadi.

Masalahnya sekarang aparat sepertinya hanya berani menindak rakyat kecil yang belum tentu bersalah. Terbukti dari dipenjaranya salah satu rekan perjuangan saya yang buta total hanya karena dianggap mencemarkan nama baik. Sementara kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat yang sudah mengakui dirinya dan sudah saya ajukan sejak lama, terkesan dibiarkan berlarut-larut.

7.      Untuk masyarakat?

Saya bukan orang yang ingin mencari kesalahan orang lain, karena saya juga pasti pernah melakukan kesalahan. Tetapi bedanya adalah saya belajar dari kesalahan itu sendiri sehingga saya tahu bagaimana untuk memperbaikinya.

Terkait masalah korupsi ini, sebenarnya yang dibutuhkan adalah sebuah kehendak dan kebersamaan untuk menuntaskan secara bersama aksi KKN. Kita bisa belajar dari kisah zaman dahulu, saat orang Sumatra, Jawa, Kalimantan dan lainnya belum bersatu. Tetapi karena ada kehendak akhirnya bisa bersatu dalam kesatuan NKRI.

8.      Penghargaan ini apa artinya untuk Anda?

Penghargaan ini akan saya jadikan sebagai penyemangat saya untuk bekerja lebih optimal lagi. Tidak mungkin lagi bagi saya untuk mundur, lebih baik tidak. Karena saya sudah terlanjur mendapatkan penghargaan yang diakui secara nasional, dan saya akan menjaga amanat dari penghargaan itu sendiri.

9.      Jualannya bagaimana?

Syukurlah, rencananya dalam waktu dekat ini saya akan menyewa sebuah warung. Jika, dulu selalu pakai gerobak kini saya sudah bisa menyewa warung. Lumayanlah..

Suci Dian Hayati

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2008 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: