RSS

Liputan Istana

28 Jan

Hari Pertama Di Istana Negara

Pagi itu, sebenarnya aku bangun dengan resah. Badan terasa tidak bersemangat, keringat dingin, pikiran bercampur aduk belum lagi ditambah perut yang bernyanyi karena belum sarapan.

Apa pasalnya? hehe, jawabannya karena minggu pagi itu aku ditugaskan untuk mengikuti acara di Istana. Khawatir pengalaman tidak menyenangkan selama liputan di DPR, membuat perasaan dan pikiranku ikut-ikutan gak siap menghadapi istana yang di dalam benak tentu lebih ketat.

Namun, dibilang aku terlalu mendramatisir keadaan dan perasaan iya juga kali ya. karena di benak ini sebenarnya siap-siap aja berangkat ke Istana. intinya hari itu aku cuma mau latihan jadi dibuat santai saja.

Abi.. ya abi-lah yang selalu menyemangati,
abi dengan kebijakannya membuat perasaanku yang tidak menentu jadi tertata dengan baik kembali
sesuai dengan sms yang diterima, baju batik jadi andalanku pagi itu
(waktu nulis ini dah capek jadi serasa garing)
dan sepatu coklat menjaga langkahku menuju istana
awal sampai, salah masuk pintu
terpaksa memutar meski kemudian abi menjemput tanpa di minta
tiba diistana….
ramah-ramah juga kok orangnya…
terlebih lagi para wartawan yang sama sekali tidak ada yang merasa diprioritaskan kala menjadi humas presiden di masing-masing medianya…
tema hari itu, langkah antisipasi pemerintah untuk menangani kenaikan harga bahan-bahan pangan pokok
tiba sekitar pukul setegah 9 pagi, pak presiden baru konferensi pers jam setengah dua
perut yang baru diisi teh manis dari dapur ruang konferensi tidak dapat menahan pedih perut kala menanti konferensi
usai konferensi…
“Wartawan jangan bubar dulu…”
padahal baru tiga langkah pak presiden membubarkan stafnya..
usut punya usut, ternyata ia berniat menyampaikan ungkapan belasungkawanya atas meninggalnya
pak harto, mantan presiden RI yang ke-dua akibat menderita sejumlah kegagalan fungsi organ vital,
tepat pukul 13.10 WIB
rencana awal pak SBY yang hendak ke Bali membuka suatu konfrensi, gagal
digantikan dengan melayat ke cendana dan esok paginya terbang ke solo
menuju pemakaman keluarga astana giribangun
Pak harto pun menutup usia di usia 87 tahun, dan dimakamkan secara militer diikuti oleh seluruh anggota pemerintahan.
hah, hari pertama meliput di istana penuh dengan kejutan, adakah esok akan senyaman dan semenarik ini?
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2008 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: