RSS

Eksplorasi PT Arun

25 Des

Bukan Tidak Ingin Memberi..

Ketika aksi pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai berpusat di kota Lhokseumawe yang disebut-sebut sebagai kawasan industri di Naggroe Aceh Darussalam (NAD), lima usaha bisnis di kota itu tanpa disadari ikut terkena dampak. Secara perlahan, pemberontakan itu menyebabkan kelima usaha bisnis tersebut sekarat dan salah satunya mati.

Diawali dengan matinya PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) yang dalam sejarah bisnis pupuk merupakan salah satu perusahaan pupuk terbesar di Asia Tenggara. Setelah dua tahun mencoba bertahan menunggu pasokan gas untuk produksi, tepatnya pada tahun 2005. AAF sendiri merupakan perusahaan bisnis yang merupakan gabungan dari lima negara Asean yakni Indonesia, Thailand, Malaysia, Filiphina dan Singapura.

Dua perusahaan lainnya, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT Kertas Kraft Aceh (KKA) sedikit berbeda nasibnya dengan AAF. Kini hidup mereka bisa diandaikan seperti ikan yang kehilangan airnya. Penyebabnya tidak lain lagi-lagi karena kehilangan pasokan gas utama yang sebelumnya dikirim dari lapangan arun yang dikelola Exxon Mobil Oil.

PT Arun yang notabenya menjadi satu-satunya perusahaan yang bertanggung jawab untuk mengalirkan gas dari lapangan arun ke seluruh konsumen termasuk kedua perusahaan tersebut, tidak lepas dari “amukan” para konsumen.

PT Arun dianggap pilih kasih dengan menghentikan pasokan gas ke perusahaan-perusahaan tersebut, namun tetap mengekspor gas LNG-nya ke Jepang dan Korea.

Tidak ingin nama dan kredibilitas perusahaan yang telah diakui sebagai salah satu industri LNG terbaik di dunia itu bertambah buruk, mendorong Presiden Direktur PT Arun LNG, Aknasio Sabri, untuk menjelaskan secara gamblang posisi PT Arun saat ini secara eksklusif kepada Suci Dian Hayati dari Jurnal Nasional, Kamis (06/12) lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Aknasio Sabri, Presiden Direktur PT Arun Presdir PT Arun Presdir PT Arun

Bagaimana perjalanan PT Arun selama lebih 20 tahun di tanah rencong?

Sebelumnya saya perlu meluruskan, karena masyarakat dan media harus bisa membedakan mana yang pertambangan dan mana proses. Misalnya, Pertamina yang dilihat sebagai perusahaan pertambangan minyak nasional yang sekaligus sebagai urutan bisnis dari kegiatan penambangan hingga ke penjualan produk.

Jadi, kilang pertamina yang berada di lapangan Badak, Cilacap, Arun, Brandan dan lainnya bukanlah pertambangan. Karena di dalam aktivitas pertambangan harus ada sesuatu yang ditambang, misalnya tambang batu bara yang selanjutnya hasil tambang itu akan diolah. Sedangkan lapangan pertamina disebut sebagai kilang.

Jika kita mempertanyakan Arun, maka kita perlu lebih spesifik lagi. Apakah yang dimaksudkan itu kilang lapangan arun atau PT Arun. Jika yang dimaksud perusahaan yang mengolah hasil kilang dari lapangan Arun, itulah PT Arun.

Jadi Arun spesifikasinya adalah perusahaan yang mengolah gas yang dialirkan dari hulu atau lapangan arun di Lhoksukon menjadi LNG di pabrik PT Arun di Blang Lancang, Lhokseumawe untuk kemudian dialirkan ke konsumen-konsumennya.

Penyaluran dari hulu ke PT Arun disebut sebagai procesing line, setelah diolah dilanjutkan dengan pengapalan (shipment). Nah dari proses pengolahan hingga masuk ke kapallah yang menjadi urusan PT Arun atau bisa dibilang sebagai upstream business.

Lalu, kapan tepatnya warga Aceh mengenal kilang Arun dan PT Arun?

Jadi, tahun 1971 ditemukanlah lapangan gas Arun, bukan PT Arun, yang lokasinya berada di Lhoksukon. Berbeda dengan perusahaan PT Arun yang adanya di Lhokseumawe.

Nah sebelum itu, pemerintah Indonesia belum tertarik dengan pemanfaatan gas bumi. Selain karena belum memiliki pengetahuan tentang pemanfaatannya, Indonesia juga belum memiliki teknologi. Alhasil, terbuanglah gas yang jumlahnya berlimpah ruah itu.

Namun, oleh Dirut Pertamina yang kala itu dijabat oleh Pak Ibnu Sutowo timbul pemikiran untuk memanfaatkan gas-gas yang dibuang dengan percuma itu. Beliau berpikir, adakah satu teknologi yang bisa memanfaatkan gas tersebut. Kala itu, lapangan gas di Lhoksukon tersebut di pegang konsesinya oleh Mobil Oil yang kini menjadi Exxon Mobil Oil (EMOI).

Pertama kali ditemukan jumlah cadangan gas yang tersedia mencapai 16 PCL (Pancontinental Oil and Gas). Masalah jumlah cadangan gas ini juga sering dipelintir media saat ini. PT Arun sering menabung pertanyaan mengapa dengan jumlah cadangan yang sebesar itu tidak bisa menyelamatkan PT PIM dan AAF hingga akhirnya mati.

Penilaian itu jelas sangat tidak adil bagi PT Arun. Besaran itu kan dilihat dari nilai yang dulu diperhitungkan, tentu sekarang besaran itu sudah berkurang karena terus menerus diambil.

Kembali ke awal, saat pemerintah tengah mencari teknologi yang tepat muncullah Mobil Oil yang mengusulkan penggunaan teknologi pengolahan gas dengan cara yang di cairkan. Timbul pertanyaan, setelah dicarikan memangnya bisa diapakan? Ternyata dalam bentuk produk demikian beberapa negara siap membelinya.

Menurut Mobil Oil, pengolahan produk gas cair sudah mulai digunakan di Alaska dan pembeli utamanya berasal dari Jepang. Namun, kala itu posisi Pertamina belum begitu dikenal di dunia persilatan minyak dunia, terlebih lagi kemampuannya dalam memproduksi LNG. Untuk itu, akhirnya Pertamina menggandeng Mobil Oil dengan harapan Pertamina mendapatkan kepercayaan dari calon konsumen.

KILANG PT Arun LNG

Bagaimana bentuk sistem kontrak yang digunakan?

Pada tahun 1973, sistem kontrak jual beli pertama ditandatangani oleh Pertamina sebagai perwakilan Indonesia dengan sejumlah pembeli dari Jepang. Diantaranya ada Osaka Gas dan Toko Gas. Tetapi, untuk mengolah itu tentu harus ada pabrik yang mengolahnya dong. Tapi mau buat pabrik harus ada duitnya juga. Saat itu Pertamina mau dapat dari mana, apakah dengan cari pinjaman? Pemerintah tentu tidak mau mengganggu APBN.

Dari peristiwa itulah muncul metode pembayaran non recost financing. Dengan metode ini biaya yang dipinjam akan dibayar dari hasil penjualan LNG. Sehingga APBN sama sekali tidak terganggu dengan kata lain pemerintah tidak ikut mendanai.

Lalu, dari mana lagi Pertamina bisa mendapatkan pinjaman, selain itu Pertamina juag membutuhkan jaminan. Tetapi apa jaminannya? Setelah berunding akhirnya diputuskan kehandalan mereka untuk menjalankan proyek tersebut menjadi jaminannya. Selanjutnya, Pertamina mendapatkan pinjaman uang dari lembaga peminjaman internasional, Trusty, yang berada di New York.

Oleh pemerintah di sepakatilah skema peminjamannya, yang mana hasil produksi LNG di potong seluruh dana yang keluar untuk proses hingga distribusi dan dana untuk mengembalikan pinjaman. Revenuenya kemudian dipotong lagi per bagian production sharing, sisanya net revenue baru masuk ke badan negara.

Nah berdasarkan pembagian kontrak bagi hasil tersebut, disepakati 70 persen untuk pemerintah dan 30 persen untuk production yang semuanya di atur oleh BPPKA (Badan pengusaha dan pembinaan kontraktor asing) Pertamina yang kemudian berubah menjadi MPS (manajement production sharing) dan terakhir berubah menjadi BPMIGas (Badan Pelaksana Kegitan Hulu Minyak dan Gas Bumi).

Setelah dana terpenuhi, maka selanjutnya tinggal pembangunan pabrik dan memilih siapa yang akan menjalankannya. Saat itu, untuk menjaga andalan perusahaan baru tersebut karena menenteng nama Mobil Oil, mereka meminta karyawan Mobil Oil saja yang menjalankan.

Tetapi Pertamina menolak karena merasa kilang tersebut berada di bawah tanggung jawabnya sebagai perwakilan negara, dengan begitu harus merekalah yang menjalankan tetapi tentu sekali lagi atas nama pemerintah.

Meski demikian, Pertamina tetap sadar bahwa mereka tetap butuh kehandalan yang dimiliki oleh Mobil Oil. Untuk itu disepakatlah kerja sama diantara keduanya, dimana Mobil Oil harus dapat mentransfer pengetahuan tentang teknologi tersebut. Jadi, orang Mobil Oil nantinya secara perlahan akan dikurangi, dan yang tertinggal hanya kunci personal saja.

Lalu dibentuklah satu perusahaan untuk mengelola gas yang dikilang. Untuk yang di lapangan Arun maka dikelola oleh PT Arun, yang lokasinya di Blang Lancang, Lhokseumawe. Nah inilah yang saya minta garis bawahi, lapangan Arun itu memang milik Exxon Mobil Oil, tetapi PT Arun berbeda lagi.

Dengan kata lain PT Arun adalah milik Pertamina?

Kilang LNG Arun memang dimiliki dan dibangun oleh Pertamina. Namun, di dalamnya juga ada kepemilikan Mobil Oil yang berperan sebagai kontraktor bagi hasil Pertamina dan bertindak selaku pelaksana operasi. Dalam hal ini Mobil Oil bertanggung jawab atas pengembangan ladang gas Arun yang menyediakan bahan baku untuk kilang LNG Arun.

Selain itu, saham PT Arun juga dipegang oleh JILCO (Japan-Indonesian LNG Co.) yang mewakili pembeli yang semuanya berasal dari Jepang. Bisa dikatakan JILCO berperan sebagai wadah yang menjembatani antara penjual dengan pembeli. Dengan demikian Pertamina memiliki saham sebesar 55 persen, Mobil Oil sebanyak 30 persen dan JIlCo sebesar 15 persen.

Dalam prosesnya, Pertamina hanya bertanggung jawab dari proses penyampaian produk ke para konsumen dan juga menghasilkan kontrak kerja sama dengan para pembeli (buyer). Sedangkan PT Arun berperan selayaknya operator yang menjalankan pabrik pengolahan gas menjadi LNG.

Dalam sejarahnya, pembeli Pertamina pertama kali adalah Jepang, diikuti Korea dan Taiwan. Nah proses transportasi hingga ke pembeli itu nantinya kita sebut down stream yang menjadi tanggung jawab Pertamina.

Berapa banyak produksi awal PT Arun?

Dalam pembangunannya, sarana kilang LNG Arun diawali dengan pembangunan tiga unit produksi (train) yang dimulai pada tahun 1974. Gas umpan dialirkan ke kilang LNG untuk pertama kalinya pada bulan Maret 1978.

Untuk produksi kondesat dimulai pada bulan Mei 1977, yaitu saat kilang LNG mulai dibangun. Lalu, Train satu mulai menghasilkan LNG pada bulan Agustus 1978 dan Train tiga pada bulan Februari 1979. Sebagian besar hasil produksi LNG diekspor ke Jepang bagian barat.

Selanjutnya, di awal tahun 1981 unit permunian gas yang berasal dari tiga Train LNG Arun ditambah dua Train lagi, guna menambah kapasitas produksi menjadi 115 persen. Peningkatan itu terutama didorong oleh berminatnya industri Jepang di kawasan timur terhadap LNG Indonesia.

Semula kapasitas produksi hanya 1,7 juta ton LNG per train per tahun, meningkat menjadi 3,4 juta ton per tahunnya. Perluasan proyek tersebut diserahkan kepada Shiyoda Chemical Engineering & Construction, bekerja sama dengan Mitsubishi Corporation dan PT Purna Bina Indonesia (PBI). Train keempat mulai berproduksi pada bulan Januari 1984.

Pengembangan proyek produksi ini dilanjutkan dengan pembangunan train enam yang direkayasa dan dibangun oleh JGC Corporation. Train ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan permintaan LNG dari Korea. Awal produksinya dimulai pada Oktober 1986, sebulan lebih cepat dari jadwal.

Saat Train enam berproduksi, kala itulah PT Arun mencapai puncak produksi. Tepatnya pada tahun 1994, PT Arun mampu menghasilkan 224 kargo gas yang ikut mempekerjakan lebih dari 2000 karyawan.

Beberapa tahun selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan gas nasional, beberapa sumber gas baru dikembangkan. Salah satunya adalah ladang gas Lhoksukon Selatan yang terletak sekitar 15 kilometer di selatan ladang gas Arun yang lebih dulu beroperasi. Dilanjutkan dengan ladang gas Pase yang lebih ke selatan lagi dan ladang gas NSO yang terletak 170 kilometer dari lepas pantai timur laut dari kilang LNG Arun yang beroperasi sebelum tahun 2000.

kapal tanker berisi gas alam cair

Lalu, mengapa kebutuhan dalam negeri tidak dapat terpenuhi?

Dalam perhitungannya, sumber-sumber gas tersebut diperkirakan dapat menjamin cukupnya catu gas untuk memenuhi kontrak penjualan LNG sampai tahun 2015 nanti. Namun, seperti yang sebelumnya saya sampaikan, produksi LNG dari kilang gas Arun tentu akan terus berkurang karena kerap kali diambil selama lebih dari 20 tahun lamanya.

Kondisi produksi gas semakin terancam karena kita tidak memiliki cadangan kilang gas lainnya, karena tidak adanya pelaksanaan eksplorasi. Sesungguhnya EMOI ada beberapa kali dalam melakukan eksplorasi untuk menemukan cadangan gas baru, namun hasil yang di dapat jumlahnya kecil-kecil. Sehingga kemudian diputuskan untuk ditutup kembali.

Selanjutnya, aktivitas eksplorasi tidak lagi dapat berjalan karena kondisi keamanan yang tidak meyakinkan, maka tidak ada yang mau masuk. Sedangkan petani saja tidak ada yang berani ke ladang, apa lagi investor luar negeri.

Perlu diketahui pula, setiap kali kegiatan eksplorasi belum tentu positif menghasilkan gas. Dalam sepuluh kali pengeboran atau eksplorasi, dapat satu cekungan yang penuh gas saja itu sudah cukup lumayan. Nah, jika aktivitas eksplorasi tidak segera dimulai lagi, maka kemungkinan untuk mendapatkan cadangan sumber gas baru semakin lama waktunya.

Akibatnya, Pasca pemberontakan GAM, produksi PT Arun memang menurun, tetapi kinerja kami tidak. Dunia internasional bisa melihat itu, bahkan kami sudah memberikan referensi kepada pertamina dan pemerintah, bahwa sesungguhnya PT Arun itu masih diperhitungkan.

Jadi tidak benar, penilaian yang menyatakan bahwa PT Arun tidak mau menyalurkan gas ke PT PIM dan PT KKA. Itu salah besar, karena bukan PT Arun yang bertanggung jawab melainkan Exxon Mobil Oil karena dari merekalah kami menerima pasokkan gas yang akan diolah yang kemudian disalurkan. Namun, perlu diingat pula jumlah cadangan gas sudah semakin menipis sehingga tidak bisa disalahkan pula.

Lalu, kelanjutan kontrak kerja dengan PT PIM dan PT KKA?

Untuk kedua perusahaan tersebut seperti yang sudah disepakati sebelumnya antara Medco dengan pemerintah, sepertinya PT PIM dan PT KKA akan mendapatkan pasokan gas dari Blok A yang berada di Langsa, Aceh Timur.

Sebelumnya kilang Blok A Langsa dimiliki oleh Conocophillips, namun karena tetap tidak menemukan cadangan gas akhirnya dibeli oleh Medco. Adapun besar gas yang tersimpan diperkirakan mencapai 0,6 TCF (triliun cubic feet), berbeda jauh dengan kilang Arun yang memiliki 16 TCF. Diperkirakan kilang A hanya bisa bertahan lima hingga enam enam tahun saja.

Bagaimana pun tidak mungkin bagi kami untuk mematikan si sulung (ekspor ke Jepang dan Korea – -red). Bahkan, si sulung saja kini sudah terpotong-potong dari awalnya memilik enal train kini hanya tersisa dua train. Produksi sebesar itu diperkirakan hanya sanggup memasok hingga 2010 nanti dan ketika saat itu tiba Arun akan tutup buku.

Mengenai seluruh fasilitas Arun yang berada di Lhokseumawe, seperti pelabuhan, train, dan juga perumahan akan diserahkan kembali kepada Pertamina selaku wakil dari pemerintah. Sedangkan bagi karyawan dana pesangon telah dipersiapkan. Namun, bagi mereka yang masih dalam masa produktif dan berkualitas tinggi, kebanyakan diantaranya telah menjalin kerja sama dengan Qatar Oil and Gas.

Suci DH

Hasil Edit di tampilkan di Jurnal Nasional,27 Desember 2007

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2007 in reportase

 

2 responses to “Eksplorasi PT Arun

  1. FREDY PRIMA IRIANO

    Juli 17, 2010 at 6:21 pm

    Assalamu’alaikum wr wb

    Kami yang bernama:

    Nama : Fredy Prima Iriano
    NIM : 111 070 025 ( angkatan 2007 )
    Jurusan : Teknik Geologi , Universitas Pembangunan Nasional ” Veteran ” Yogyakarta

    Nama : Yogie Zulkurnia R
    NIM : 111 070 092 ( angkatan 2007 )
    Jurusan : Teknik Geologi , Universitas Pembangunan Nasional ” Veteran ” Yogyakarta

    Ingin menanyakan kepada Bapak/Ibu, bahwa saya sekarang ini sedang mencari tempat untuk melaksanakan Kerja Praktek di semester 7 ( Bulan September-Desember 2010 ). Apakah untuk periode bulan September- Desember 2010 di PT Arun., membuka tempat untuk diadakan Kerja Praktek.Saya berharap Bapak dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang Kerja Praktek yang ada di PT Arun.
    Demikianlah surat ini saya sampaikan. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya ucapkan terimakasih.

    Wassalam,

     
  2. Palm Services in Scottsdale

    Mei 3, 2013 at 11:37 am

    Thanks designed for sharing such a nice thought, paragraph is good, thats why i have read it completely

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: