RSS

Eksplorasi PT Arun

25 Des

Seorang Wartawan Bertanya..

Seorang wartawan Jakarta berceletuk kala menyusuri ruang-ruang di kota Lhokseumawe yang disebut-sebut sebagai kota zona industri di Nanggroe Aceh Darussalam. “Seharusnya dengan kehadiran lima perusahaan besar di kota ini, pembangunannya bisa jauh lebih baik,”ujarnya sambil termangu memandangi kondisi pembangunan di kota itu.

Meski baru kali ini ia datang berkunjung ke kota Lhokseumawe, ia dapat melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang salah dalam pemerintahan dan pembangunan kota yang berukuran 212 kilometer kubik dengan jumlah penduduk mencapai 188.974 jiwa berdasarkan sensus tahun 2000.

Pertanyaan yang menggelitik pikirannya itu dirasa cukup wajar. Terutama posisi kota ini persis di tengah-tengah jalur lalu lintas timur Sumatra dari Medan hingga ke Banda Aceh. Siapa pun yang melewatinya tentu sempat terbesit pemikiran, bukankah seharusnya dengan lima perusahaan besar yang menghasilkan cukup banyak uang dari sumber daya alam yang dikeruk dari tanah masyarakat Aceh itu bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat?

memandang laut lepas

Tingginya suara perusahaan-perusahaan di Indonesia yang mengumandangkan program ComDev (Community Development) sebagai salah satu jalan untuk mengucapkan terima kasih atas warga di sekitar kawasan beroperasi, dapat mengangkat perekonomian warga? Tidakkah seharusnya perekonomian warga terbantukan dengan posisinya sebagai jalur utama untuk distribusi dan perdagangan antara dua kota besar di Sumatra?

Namun, kenyataan yang terlihat justru jalan-jalan utama di Lhokseumawe rusak berat. Lubang-lubang besar menganga dimana-mana hingga mengakibatkan air dengan mudah tergenang. Kondisi itu semakin bertambah buruk kala musim hujan seperti bulan ini.

Fasilitas umum lainnya juga minim, termasuk lampu-lampu lalu lintas. Akibatnya suasana gelap menyelimuti jalan-jalan utama. Begitu pula dengan jembatan di dalam kota yang bertahun-tahun tidak selesai di bangun.

Penglihatan demikian tentu sangat menggoreskan hati, terutama kala sumber daya alam tanah Cakra Donya (sebutan untuk genta peninggalan bersejarah Aceh) terus menerus di keruk. Bisa dikatakan kehadiran lima perusahaan tersebut selama lebih dari 20 tahun, tetap tidak mampu mengangkat derajat kehidupan masyarakatnya dari garis kemiskinan.

Seakan-akan pagar yang membatasi komplek perumahan karyawan pabrik-pabrik dengan masyarakat menjadi batas nyata perkembangan teknologi dan pembangunan manusianya. Tidak jarang terlihat rumah-rumah gubuk di seberang pagar-pagar itu, bahkan warung-warung reyot yang berdinding kayu dan beratapkan daun rumbia menyambut setiap pengunjung yang akan memasuki komplek perumahan.

Akibatnya kecemburuan sosial warga sekitar terus memuncak dan pada akhirnya mendorong timbulnya gerakan-gerakan separatis dari sebagian rakyat pribumi yang ingin menuntut kembali haknya bagi kemakmuran dan kesejahteraan di masa depan.

“Warga lokal merasa kontribusi perusahaan-perusahaan itu belum cukup. Kami meminta agar perusahaan-perusahaan itu segera mengformulakan bantuannya agar warga bisa berkembang. Khususnya Arun yang akan segera tutup, jangan sampai warga kehilangan arah setelah ditinggalkan,”ujar Ketua DPRD Lhokseumawe, TA Khalid, saat dihubungi Jurnal Nasional, Senin (17/12) lalu.

Meski begitu, ia tidak menampik perusahaan-perusahaan itu juga memberikan bantuan kepada masyarakat. Khalid mencontohkan PT Arun juga menyediakan berbagai fasilitas pendidikan dari tingkat dasar hingga SMA bagi masyarakat sekitar yang berlokasi di dalam kompleknya. PT Arun juga memberikan bantuan beasiswa bagi anak-anak setempat untuk bisa sekolah lebih tinggi lagi.

Tetapi sayangnya, bantuan-bantuan itu menurutnya belumlah cukup karena jarang ada bantuan yang dapat mendidik warga yang di sekitarnya untuk bertambah mandiri. Bila peribahasa mengatakan “berikanlah pancingnya jangan kailnya”, maka perusahaan-perusahaan yang kredibilitasnya sudah diakui dunia internasional itu melakukan yang sebaliknya.

Kembali ia mencontohkan PT Arun yang oleh dunia dikenal sebagai perusahaan produksi gas cair atau LNG terbaik, kerap memberikan bantuan yang bersifat cepat habis pakai. “Saya akui PT Arun dan Exxon memang memberikan kontribusi kepada masyarakat, namun bukan bantuan yang bersifat permanen sehingga bisa membantu masyarakat mengembangkan perekonomiannya dalam jangka waktu lama,”ujarnya.

Khalid sempat menyampaikan penyesalannya atas jawaban dari PT Arun yang menolak beberapa permohonan pemerintah daerah yang bertujuan untuk mengembangkan kota tersebut.

“Mereka kerap menjadikan alasan bahwa keputusan memberikan bantuan itu berada di tangan petinggi mereka di Jakarta. Mereka juga mengatakan bahwa posisinya hanyalah sebagai pelaksana operasional saja yang tidak berhak memutuskan,”kata Khalid dengan nada yang menunjukkan kekecewaan.

Meski demikian, ia bersama anggota pemerintah daerah lainnya tetap berharap agar sebelum akhirnya perusahaan LNG itu benar-benar menutup catatan hariannya di kota yang baru saja menggandeng identitas sebagai kota pemerintahan itu, dapat memberikan kontribusi terakhir kepada masyarakat yang bersifat permanen hingga mendorong terciptanya manusia yang mandiri.

“Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada perusahaan untuk tidak terus menerus memberikan masyarakat bantuan dana atau pun bantuan fisik, cobalah berikan mereka sesuatu yang dapat bermanfaat dalam jangka waktu lama. Atau cobalah salah satunya dengan memberikan fasilitas listrik untuk seluruh warga terutama yang di pelosok,”ujarnya.

Saat ditanyakan seberapa besar dana dari pemerintah hasil beroperasinya lima perusahaan itu yang kembali ke kota Lhokseumawe, Khalid menyatakan bahwa ia tidak berhak untuk menyampaikan besarnya jumlah yang diberikan. Namun, betapapun besar dana yang kembali masuk, Khalid menolak mengatakan bahwa kelima perusahaan itu telah memberikan yang terbaik bagi masyarakat sekitar.

Suci DH

Hasil Editan Terbit di Jurnal Nasional, 27 Desember 2007

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2007 in reportase

 

3 responses to “Eksplorasi PT Arun

  1. hairulanwar

    September 27, 2008 at 8:27 pm

    Suci yang baikk..

    Peu haba?

    Senang berkunjung ke blogmu..kita bisa bertukar cerita tentang Aceh dan Jakarta..heheh
    Titip salam buat mas Agus ya…Aku link blog km, boleh? hehehe..

    Saleum dari Aceh

    Hairul Anwar..

     
  2. suci

    Oktober 5, 2008 at 5:36 pm

    Haba geut, irul….aduh sudah lama tidak berjumpa. hahaha….
    wah sekarang dikau dimana? kerja nya apa? tapi Minal Aidin Wal Faidizin dulu ya,….
    maaf-maaf kalo dulu sewaktu sekolah cici ada salah..hehehe. blog mui apaan, rul?

     
  3. Tony Sitompoel,SH.ELs

    Oktober 8, 2008 at 1:56 pm

    bingung yah….
    yang salah dimana???

    padahal dari sekian banyak untung yang telah diraup beberapa perusahaan besar dinegara ini..
    kok malah kurang perhatian kemasyarakat sekitar???
    salah dimana ini?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: