RSS

Cacat Bukanlah Penghalang

03 Des

Kisah Pekerja Cacat di Perusahaan Multinasional

“Silahkan, ada yang bisa dibantu, Mbak?” sapanya kala pintu kaca Shell shop di pom bensin di Jalan Kyai Duta terbuka tanda pembeli datang. Dengan senyum lebar dan keramahan ia melayani pembeli itu meski selintas ia masih terlihat malu-malu.

Di balik meja kasir yang didominasi warna kuning itu, Ganjar, si petugas, tidak terlihat berbeda dengan petugas lainnya yang ada di ruangan seluas 6 meter itu. Tetapi, kala ia berjalan keluar dari meja dan menuju rak-rak barang, terlihat ada sedikit yang berbeda dengan caranya berjalan.

pom-bensin-shell-suci-6aaaa.jpg

“Satu kaki saya memang cacat sejak lahir, Mbak,” ujarnya menjelaskan. Jika diperhatikan, ukuran telapak kaki kirinya memang lebih kecil dibandingkan kaki kanannya, dan sedikit lebih pendek. Hal ini jelas terlihat kala ia berjalan, sepatu yang ia kenakan tidak sepenuhnya tertutup rapat oleh pergelangan kakinya. Akibatnya, saat berjalan pergelangan kaki kirinya sedikit menjorok ke dalam, tidak lurus ke depan. Ia pun tampak sedikit kesulitan untuk berjalan dengan cepat.

Sesaat saya termangu. Bagaimana bisa perusahaan minyak sebesar Shell mempekerjakan seorang karyawan yang memiliki cacat fisik? Jelas hal ini di luar kebiasaan suatu perusahaan besar, terlebih lagi Shell sebagai salah satu perusahaan perminyakan yang sudah diakui kiprahnya di dunia.

Umumnya, perusahaan apapun itu akan lebih memilih karyawan yang sehat secara fisik tanpa ada embel-embel kekurangan. Dengan alasan kekurangan fisik itu akan memperlambat lajunya produksi. Lalu apa yang membuat Shell, menerima karyawan seperti Ganjar?

Fathia Syarif, Corporate Communication Manager Shell kepada Jurnal Nasional, Kamis (22/11) menjelaskan, pemberian kesempatan kerja bagi para penyandang cacat tersebut merupakan salah satu jalan bagi Shell untuk memberikan dukungannya kepada masyarakat sekitar.

Shell sadar, selama ini para penyandang cacat selalu kesulitan mendapatkan pekerjaan akibat kekurangan yang mereka miliki. Padahal, tidak sedikit penyandang cacat yang mampu menghasilkan karya. Bahkan, jika pekerjaan yang diberikan sesuai mereka dapat berkembang menjadi lebih baik.

Berangkat dari kepercayaan itulah, akhirnya Shell membuka peluang kerja bagi para penyandang cacat yang memiliki kemauan untuk maju, dan berkembang bergabung dengan perusahaan yang memiliki ikon cangkang kerang itu. “Kami usahakan setiap SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dapat mempekerjakan para penyandang cacat, khususnya yang berasal dari masyarakat sekitar SPBU,” ucapnya.

Diutamakan dari masyarakat sekitar tentunya ada alasannya yaitu untuk memberikan peluang bagi para pemuda di sekitar lokasi kegiatan Shell dapat berkembang lebih baik terutama perekonomiannya. Selain itu, mereka lebih nyaman jika lokasi kerja tidak terlalu jauh dari rumah.

Tetapi, tidak semua penyandang cacat dapat diterima bekerja di pom bensin Shell. “Saat ini penyandang cacat yang dipekerjakan lebih diprioritaskan tunadaksa (cacat anggota tubuh), karena kami juga memperhatikan keselamatan mereka saat bekerja di SPBU,”ujar Fathia. Bisa dibayangkan jika seorang tunarungu atau pun tunanetra bekerja di SPBU, bisa-bisa terjadi kecelakaan.

Ganjar salah satu dari sekian penyandang cacat yang mengajukan diri. Ganjar mengaku, kabar mengenai program Shell itu pertama kali ia dengar saat masih mengikuti pelatihan menjahit, dan membuat bordir di Lembaga Pemberdayaan Tenaga Kerja Penyandang Cacat (LPTKP) di Bintaro, Jakarta Selatan.

“Saat itu instruktur saya mendapatkan informasi dari YPAC ( Yayasan Penyandang Cacat Indonesia) bahwa Shell membuka lowongan buat Penyandang Cacat (Penca). Setelah mendengar informasi tersebut saya dan teman-teman memasukan lamaran,” kata pria yang berperawakan kecil ini dengan penuh harapan ia diterima.

Di tengah-tengah kesibukannya melayani para pembeli, Ganjar bercerita sebelumnya ia sudah pernah melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Bahkan, ia langsung mendatangi perusahaan-perusahaan tersebut berharap mereka dapat terbuka hatinya untuk mempekerjakannya.

Tapi jawabannya, “Tidak ada Lowongan,” ujar Ganjar menirukan. “Mungkin waktu itu saya masih awam dan baru lulus sekolah,” katanya menambahkan.

Dia berusaha berpikir positif meski hatinya pedih menerima kenyataan sulitnya mencari pekerjaan. Namun, dengan dibukanya lowongan khusus penyandang cacat dari Shell jelas memberikan harapan baru bagi anggota masyarakat seperti Ganjar.

Mimpinya untuk dapat bekerja dan berbakti pada keluarga pun akhirnya tercapai, saat panggilan kerja dari Shell Kyai Tapa, Grogol, berada di tangannya. “Dari delapan orang yang diseleksi, diterima dua orang dan salah satunya saya. Perasaan saya sangat senang karena kesempatan datang hanya sekali,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Tidak hanya Ganjar yang berbunga-bunga hatinya, tetapi keluarganya juga. “Mereka memberikan motivasi dan doa, dan berharap saya betah di pekerjaan saat ini,” ujar pria yang bercita-cita menjadi seniman pelukis dan pengusaha itu.

Meski memiliki kekurangan fisik Ganjar tidak pernah merasa canggung bercengkerama dengan rekan-rekannya di lokasi kerja. Justru, seluruh rekannya cukup membantu dan memahami kekurangannya. “Karyawan-karyawan Shell Kyai Tapa semuanya baik-baik, dan bersosialisasi seperti halnya waktu di sekolah dulu”.

Terlihat kepuasan di wajah Ganjar saat bercerita mengenai kondisinya saat ini. Berbeda jauh dengan perasaannya ketika kerap membebani keluarga karena belum bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga. “Saya cukup puas untuk saat ini dan bersyukur kepada Allah sudah bekerja di Shell.”

Wisnu Ajinugroho, atasan Ganjar di pom bensin Shell Kyai Tapa, memperhatikan perkembangan kinerja anak buahnya yang satu ini. Menurut dia, Ganjar termasuk pekerja yang optimistis dan rajin. Sebagai penghargaan atas kerja keras Ganjar selama kurang lebih setahun bergabung, kini jabatannya setingkat lebih tinggi dari awal bekerja.

Pertama bekerja, Ganjar menjadi CSA Counter. Tugasnya tidak jauh beda dengan kasir, yaitu melayani dan menawarkan Customer untuk belanja produk, oli, makanan dan minuman secara tunai atau memakai kartu kredit. Kemudian pada saat Shell Kyai Tapa membutuhkan kasir, atau back up admin, Ganjar yang terpilih setelah melewati sebuah seleksi.

Ganjar memang beprinsip, besok harus lebih baik dari sekarang dan kemarin. Karena itu dia ngotot untuk bisa kuliah. Dia sadar pendidikan itu penting terutama untuk menggapai karier yang lebih tinggi lagi.

“Setelah mendapat izin dari pimpinan, saya kini tengah mengambil kuliah di Bina Sarana Informatika, khususnya Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK). Kuliahnya sore, jadi tidak mengganggu pekerjaan,” ujarnya sambil tersenyum. Satu hal lagi yang membuatnya bertambah bangga dan tidak lagi memandang kekurangannya lagi adalah karena ia bisa membiayai kuliahnya sendiri.

Suci DH

diterbitkan di Jurnal Nasional 29 November 2007

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 3, 2007 in reportase

 

3 responses to “Cacat Bukanlah Penghalang

  1. ari

    Oktober 25, 2008 at 10:10 am

    masih ada lowongan gak ya?almt yg bisa di hubungi di mana?

     
  2. Jamilah

    Maret 20, 2011 at 11:47 pm

    nama saya Jamilah, 40 tahun. Saya cacat polio, kaki kiri saya lebih kecil dari kaki kanan saya,tapi saya bisa berjalan. Saya pernah jadi kasir di Taman Ria Senayan selama 7 tahun. Masih adakah lowongan untuk orang2 seperti saya di Shell? makasih.

     
  3. Joko temennya ganjar

    September 26, 2013 at 1:38 pm

    Penyandang Disabilitas / Cacat
    BISA SUKSES !!! lihat sini >> http://chahndeso.blogspot.com/2013/09/penyandang-cacat-disabilitas-jangan.html

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: