RSS

CSR Elnusa: Seri II

19 Nov

Kisah Gizi Buruk di Sekitar Elnusa

Setahun lalu, setidaknya 23 balita di kawasan Cilandak Timur, Jakarta Selatan, mengidap penyakit kurang gizi. Padahal, kawasan ini tak jauh dari kantor-kantor perusahaan besar.

Ketua RT 03/RW 03 Cilandak Timur, Daryuningsih menduga ekonomi yang sulit membuat balita itu mengalami malnutrisi. Rata-rata warga di tempatnya bekerja sebagai buruh, atau pedagang kecil. Jangankan memasok makanan bergizi untuk anak-anaknya, kata Daryuningsi,“Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah kewalahan.”

Pendidikan para orang tua yang rendah juga menjadi pemicu buruknya gizi balita. Ia mencontohkan, salah satu warganya, yang anaknya menderita kekurangan gizi, tidak membaik kondisinya, kendati selama setahun mendapatkan makanan bergizi melalui program posyandu.

gizi buruk di kawasan sekitar elnusa

“Sudah dibilang agar anaknya jangan terus menerus diberi mie instan, dan makanan kecil (snack), tapi keras kepala,” ujar Gianti, bendahara RT setempat, yang ikut mendampingi Daryuningsih. Sebelum 2006 posyandu yang diketuai Daryuningsih memang kerap mendapatkan bantuan dari warga yang perekonomiannya termasuk golongan menengah.

“Saat itu, tiap kegiatan posyandu kami masih bisa memberikan susu, bubur kacang hijau, makanan tambahan seperti biskuit, dan lainnya,” ujar Daryuningsih kepada Jurnal Nasional pekan lalu di Jakarta. Keadaan berubah setelah sang donatur pindah rumah yang berakhir dengan berhentinya bantuan.

Daryuningsih tak ingin posyandu di daerahnya mati. Lalu, dia mengajukan proposal ke kantor-kantor di sekitar rumahnya. Salah satu proposalnya mampir ke PT Elnusa. Gayung bersambut. Proposalnya diterima, setelah melewati serangkaian prosedur dan tes. Bantuan baru cair setelah tiga bulan setelah pengajuan.

Awalnya, lingkungannya hanya mendapat dana Rp200 ribu pada bulan pertama. Tapi selanjutnya, kucuran dana Rp500 ribu didapatkannya hingga kini. Bantuan ini, tak dimanfaatkan untuk memenuhi gizi balita saja. Menurut Daryuningsih, para remaja dan orang dewasa beserta orang tua renta setiap tiga bulan sekali mendapatkan pengobatan gratis, hasil dari dana bantuan tersebut..

“Dokter yang memeriksa tidak hanya dokter umum saja, melainkan dokter gigi juga ada. Bahkan, warga sering tidak sabar menanti jadwal pemeriksaan tiga bulan ke depan,” kata Ketua RT yang baru terpilih dua pekan lalu itu. Untuk mencegah bertambahnya anak-anak balita yang menderita kurang gizi, tempatnya juga mendapat bantuan makanan tambahan ketika pemeriksaan kesehatan berlangsung, dari Elnusa.

Setelah setahun berjalan, jumlah anak yang menderita kurang gizi telah berkurang, dan hanya tersisa dua anak saja. “Penyebabnya ya itu tadi, orang tuanya kurang bekerja sama,” ucapnya.

Bantuan yang diterima warganya tak hanya itu. Rupanya, anak perusahaan PT Pertamina itu memahami bahwa akar utama kekurangan gizi adalah pendapatan para orang tua yang rendah. Elnusa lalu berupaya membantu meningkatkan pendapatan warga yang rata-rata tinggal di sepanjang Kali Krikut itu.

Elnusa membantu memberikan pinjaman, dan menambah keahlian warga setempat. Pelatihan yang diberikan antara lain tentang pengolahan sampah rumah tangga untuk dijadikan kompos. Lalu, usaha pengembangbiakan cacing tanah untuk pakan ikan. Elnusa juga mau menampung, hasil pekerjaan mereka.

Perusahaan perminyakan itu mendatangkan peneliti dari Institut Pertanian Bogor untuk memberikan pendampingan kepada warga. Melalui bantuan itulah, warga mengenal teknologi pembuatan kompos yang mudah dan murah. Hanya sebuah tong besar yang dijadikan seperti tong sampah, dan kemudian di lubangi beberapa bagiannya agar terjadi proses pembusukan.

Tong sampah tersebut berkapasitas satu meter kubik dipasang melintang di antara dua tiang paralel setinggi satu meter, serta dilengkapi alat pemutar. Setelah tong itu penuh sampah, disiram bahan kimia effective microorganism (EM) 4, sejenis bakteri pengurai yang dapat dibeli di apotek atau pun toko obat lainnya. Proses penguraian sampah hingga menjadi pupuk kompos hanya membutuhkan waktu 12 hingga 14 hari.

“Untuk sementara, kami baru menggunakan pupuk hasil pengolahan sampah ini untuk tanaman di pot-pot bunga di rumah masing-masing karena jumlah yang dihasilkan masih sedikit.” Daryuningsih menambahkan,”Rencananya, kalau produksinya sudah banyak, akan kami jual ke masyarakat sekitar atau langsung ke Elnusa.”

Suci DH

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 19, 2007 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: