RSS

Realisasi Renewable Energy Butuh Waktu Lama

04 Nov

Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus hingga US$90 per barel tersebut tidak akan memberikan efek secara langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2007 ini, seperti yang ia sampaikan kepada Jurnal Nasional Rabu (24/10).

Menurutnya, fluktuasi dari harga basket yang dipergunakan oleh Indonesia untuk menjual minyak mentahnya, yaitu ICP (Indonesian Crude Price), tidak menyamai fluktuasi yang dialami oleh WTI (Western Texas Intermediate) yang menjadi acuan Amerika.


“Efek peningkatan harga minyak mentah untuk APBN 2007 bisa dikatakan belum memiliki efek, tetapi efek riil yang dilakukan itu relatif lebih terkontrol,” ujar Airlangga yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Emiten Indonesia itu.

Dugaan akan mempengaruhi APBN 2008, Airlangga mengatakan hal itu mungkin saja terjadi. “Kita lihat dulu lah dalam waktu lima hingga enam bulan ke depan. Tetapi, pemerintah tetap akan mempersiapkan langkah-langkah antisipasi,”jelasnya.

Sementara ini, Pertamina sebagai salah satu pemain dalam penentuan harga minyak Indonesia diharapkan berani melakukan upaya lindung nilai (hedging). Karena dengan upaya tersebut maka Indonesia dapat membeli harga minyak sepanjang tahunnya dengan harga yang tetap. Terlebih lagi setelah rencana tersebut mendapat dukungan dari Menteri ESDM Poernomo Yusgiantoro.

Ia menjelaskan, “kuncinya bagaimana pembelian bisa terlindungi”. Dengan demikian, harga beli minyak oleh Indonesia tidak akan terpengaruh naik turunnya harga minyak mentah dunia. “Tinggal harga jual minyak mentah saja yang akan mengikuti perkembangan harga internasional”.

Menanggapi kemungkinan kondisi terus menanjaknya harga minyak mentah dunia, Airlangga menjelaskan pemerintah telah menyiapkan serangkaian langkah antisipasi. Salah satunya dengan memenuhi target lifting minyak dan gas yang sudah diatur dalam APBN 2008 yang mencapai 1,034 juta barel per harinya.

“Tetapi, kita masih menunggu persetujuan dari BPMigas mengenai budgetnya. Jika itu saja belum mana bisa produksi?” ujarnya. Selain itu, dengan meningkatkan produksi dari sumur-sumur boran yang sudah ada dan memperlambat laju penurunan produksi lapangan-lapangan tua dengan berbagai cara. Ditambah dengan gencar mengeksplorasi sumber-sumber baru.

Sementara ini, peningkatan produksi migas di tahun 2008 hanya mengandalkan sejumlah lapangan yang dikelola oleh PT Chevron di Sumatra, PT Pertamna EP, BP Indonesia, COnocoPhillips, Santos serta Has.

Blok yang dikelola Chevron di Sumatera, diperkirakan akan dapat meningkatkan produksi sekitar 10.000 barel per hari. PT Pertamina EP diharap dapat meningkatkan produksi hingga 28%, serta daerah operasi BP Indonesia di laut Jawa diperkirakan dapat meningkatkan produksi hingga 50%.

Sementara masalah yang dihadapi ConocoPhillips di Lapangan Belanak, tahun depan diperkirakan sudah dapat teratasi. Produksi dari lapangan ini diperkirakan naik 250%.

Airlangga yang juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Fajar Surya Wisesa itu memaparkan, rencana pengalihan bahan bakar fosil ke bahan bakar nabati ataupun sumber energi lainnya (Renewable Energy) “masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak semudah membalikkan telapak tangan,”ungkapnya.

Menurutnya, penggunaan bahan bakar alternatif menggunakan bahan dasar pangan seperti minyak dari kelapa sawit tidak akan berbeda terlalu jauh dengan penggunaan bahan bakar dari fosil. “Saat harga minyak dunia naik, maka harga CPO juga akan ikut naik,”paparnya.

Diperkirakan jika harga CPO meningkat menjadi 825 dolar Amerika per ton, maka salah satu industri yang paling merasakan dampaknya adalah industri minyak goreng. Kemungkinan kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri mencapai Rp450-500 per kilogram.

Berbeda halnya saat menggunakan bahan bakar alternatif yang bukan berdasarkan bahan pangan seperti tanaman jarak. Tetapi, “kesiapannya belum ada. Karena kita akan membicarakan masalah ketersediaan benih, lahan penanaman, dan juga teknologi penyulingannya”.

Saat ini, sumber energi alternatif yang dirasa cukup berpotensi adalah geothermal atau energi panas bumi, ujar Airlangga. “Kita tinggal menanti turunnya Peraturan Presiden (perpres) mengenai pemanfaatan energi ini. Dengan demikian kita bisa langsung menawarkannya ke investor”.

Selain itu, teknologi untuk memproduksinya juga minim karbon sehingga jelas ramah lingkungan. Kemampuan teknologi ramah lingkungan ini, menurutnya juga sama pentingnya dengan keberadaan energi itu sendiri. Terlebih saat ini Indonesia masih dalam sorotan dunia untuk ikut serta dalam program penanganan global warming.

Menanggapi saran penghematan penggunaan energi berbahan bakar fosil baik oleh industri dan masyarakat, Airlangga mengatakan “itu semua merupakan demand side management”. Menurutnya yang terpenting adalah penerapan reward dan punisment bagi para pengguna bahan bakar fosil.

Jika, menggunakan bahan bakar secara boros maka harus dikenakan pajak yang lebih tinggi. Sedangkan mereka yang menghargai dan melakukan penghematan bahan bakar pantas diberikan intensif. “Masalahnya belum dibahas secara mendetail,”katanya.

Suci DH, ditulis untuk Jurnal Nasional, 01 November 2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2007 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: