RSS

Apa Kabar Bahan Nabati?

04 Nov

Temuan Astri Bestari Ciptaningrum dan Indra Surya Atmaja, siswa kelas XII IPA SMA Negeri 6 Yogyakarta, kian membuktikan bahwa Indonesia memiliki bahan melimpah untuk mengembangkan energi alternatif. Peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-39 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ini berhasil menemukan bahwa biji ketapang (Terminalia katappa) ternyata bisa dimanfaatkan sebagai briket bahan bakar.

Selain murah, ketapang mudah ditemukan di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, dan bisa diperbarui. “Pohon ketapang tumbuh di pinggir-pinggir jalan dan buah yang tua biasanya berjatuhan di jalan,” ujar Astri. Dia dan Indra mendesain secara sederhana pemecah kulit ketapang dan alat pirolisis atau pembakaran kulit ketapang menjadi briket.

Penemuan serta pengembangan energi terbarukan tentunya sudah banyak dilakukan, khusus oleh LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta lembaga penelitian sejumlah perguruan tinggi. Tapi, pemanfaatan hasil penelitian itu belum optimal.

Ketika terjadi lonjakan harga minyak pada 2005, pemerintah sudah menyadari betapa pentingnya pengembangan energi alternatif. Salah satu yang menjadi pilihan adalah bahan bakar nabati. Tim Pengembangan Bahan Bakar Nabati pun dibentuk di bawah kendali Alhilal Hamdi. Sejumlah uji coba terus dilakukan.

Pertamina menjadi ujung tombak program tersebut. Lebih dari 130 pompa bensin Pertamina menyediakan biosolar 5 persen. Program ini diharapkan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil secara signifikan.

Tapi program ini sekarang praktis macet. Pertamina malah merugi. Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Achmad Faisal pernah mengemukakan, kerugian Pertamina dari Mei 2006 sampai Maret 2007 sudah mencapai Rp 16,9 miliar. Tinggi harga minyak kelapa sawit, di atas US$800 per ton, menjadi biang keladinya. Sementara penggunaan tanaman lainnya, seperti pohon jarak, belum memenuhi skala ekonomis.

Bendahara Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia Paulus Tjakrawan pernah menyatakan, harga CPO sudah tidak kompetitif untuk pengembangan biodiesel. Bila harga CPO terus naik, kebutuhan CPO untuk biodiesel bakal melemah. Sebab, harga CPO sekarang sama sekali tidak memberi insentif bagi produsen biodiesel untuk memproduksi lebih banyak. Tak heran jika pabrik penyedia biodiesel terus berontokan.

Hilal menampik jika program pemerintah itu dikatakan macet. Menurut dia, industri biodiesel mulai melirik menggunakan bahan baku dari tanaman jarak pagar, minyak kelapa, dan minyak nipah. Akan tetapi, kita belum bisa menikmati hasil dari perkembangan minyak jarak saat ini karena “perkembangannya masih balita, begitu pula perkebunannya.” Menurut dia, luas perkebunan jarak hingga saat ini baru 30 ribu hektar.

Menurut dia, dua tahun ke depan, industri ini akan mengadakan perluasan lahan tanam untuk memenuhi target kebutuhan bahan baku industri yang skalanya jauh lebih besar. Selain itu, akan ada seleksi bibit-bibit unggul sebagai unsur yang paling vital guna menghasilkan perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi.

Hilal berpendapat, hambatan utama industri biofuel tidak lain adalah keterbatasan bibit unggul di Indonesia. Meskipun ada, jumlah produksinya tidak bisa memenuhi skala industri, dan pemasokannya pun tidak bisa menyamai kecepatan jalannya industri. Hambatan lainnya adalah pengeluaran izin penggunaan lahan tanam.

Hilal berharap, pemerintah lebih mendukung perkembangan industri ini dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada konsumsi bahan bakar nabati. Misalnya, penyediaan kendaraan berbahan bakar nabati. “Diikuti pula dengan pembebasan bea impor benih bahan baku.” Di luar itu, sebenarnya pemerintah sudah menyuntik subsidi pengembangan sebesar Rp1 triliun.

Diterbitkan di Jurnal Nasional, 1 November 200, (Thontowi/suci)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2007 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: