RSS

Ketua APBI: Jefrey Mulyono, Menyulap Perusahaan Kolaps

22 Okt

jeffery-ketua-apbi-di-timika-saat-bekerja-di-freepot-1.jpg

Sembari mengepulkan asap rokoknya, Jefrey Mulyono membayangkan kembali masa-masa remajanya. Sejak bangku sekolah menengah, dia harus bekerja keras membantu orang tua mencari nafkah. Kala teman-temannya tidur nyenyak selama delapan jam, ia hanya memiliki waktu dua jam untuk menikmati indahnya dunia mimpi. “Hidup cukup ya, dengan bekerja keras,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) 03 Oktober lalu ketika bertemu Jurnal Nasional. Jefrey beruntung, kendati disambi bekerja, masih berhasil meneruskan kuliah di perguruan tinggi ternama, Institut Teknologi Bandung. Di masa kuliah ini, dia pun tetap harus bekerja untuk meringankan beban orangtuanya.

“Saya sangat bersyukur keluarga mendukung seluruh aktivitas saya, terutama almarhum ibu. Ia selalu membebaskan anak-anaknya memilih untuk bekerja atau pun bersekolah,” kata pria 56 tahun ini.

Selepas lulus dari bangku kuliah, ia memilih untuk hijrah ke Jakarta. Nasib membawanya ke United Tractors, salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang penyediaan dan penyewaan alat-alat berat, termasuk untuk dunia pertambangan.

Selama di perusahaan tersebut, dia sudah merasakan hampir semua bidang. Setidaknya dalam dua tahun ia telah dipindahkan ke berbagai departemen di perusahaan yang menjalin kerja sama dengan PT Astra Motor Works. “Setiap kali pindah saya diharuskan untuk belajar lagi dari awal, karena saya tidak memiliki banyak pengetahuan di bidang-bidang itu,” ungkap pencinta semua binatang itu.

Dia sama sekali tidak berprasangka buruk dengan keputusan atasannya karena sering memindah dirinya ke departemen berlainan. “Hidup ini harus disyukuri, apa pun itu, sehingga hidup akan lebih nyaman.”

Kendati demikian, Jefrey menyadari jika kesuksesan tidak dapat diraih hanya dengan menunggu. Semua perlu dikejar dengan kerja keras. “Saya tahu jika saya tidak bekerja keras, maka saya tidak akan memiliki karier,” kata suami dari Rita Tejamirah ini.

Karena itu, dia rela bekerja melebih jam kerja pada umumnya dan mengorbankan jam istirahatnya. “Saya berpikir anak-anak muda akan terus menerus bertambah (mengisi berbagai jabatan), dan saya tidak mau kalah untuk itu saya terus bekerja keras”.

Tidak jarang sang istrinya cemburu kepada pekerjaannya. “Bahkan, ia mengatakan jika pekerjaan adalah istri saya yang pertama,” kata Jefrey sambil tersenyum. Tetapi, dengan teknologi yang ada, dia bersyukur karena mempermudah komunikasinya dengan keluarga. Pernikahan yang dilakukan pada 1983 pun hingga kini tetap langgeng.

Pada tahun 1996, Jefrey ditunjuk menjadi salah satu anggota direksi. Jabatannya sebenarnya sudah menjamin kehidupan keluarganya. Tetapi Jefrey tampaknya butuh tantangan baru.

Setahun kemudian, ia mendapatkan tawaran untuk membeli perusahaan tambang batubara, PT Berau Coal. Kala itu perusahaan itu tengah kolaps. “Tetapi, saya nekat membelinya dan berusaha untuk segera memperbaikinya.”

Kelangsungan hidup seluruh karyawanlah yang memicunya untuk segera berupaya keras mengembalikan kesehatan perusahaan. “Bagaimana pun karyawan adalah aset negara dalam bentuk sumber daya manusia.”

Tetapi jalan yang ditempuhnya tidaklah mudah. Dia terpaksa memecat seluruh karyawan ekspatriat, karena tidak mampu membayar gajinya yang tinggi. Langkah selanjutnya, ia mulai memompa semangat para karyawan domestik. “Tunjukkan bahwa Bangsa Indonesia tidak jauh berbeda dengan mereka. Tetapi tentu hal itu tidak mudah dan tidak gratis,” ujarnya mengutip kalimat yang pernah dilontarkan kepada bawahannya..

Jefrey lalu mendorong karyawannya untuk menerapkan budaya yang baik seperti selalu semangat, jujur, transparan, dan tidak korupsi. Kesetiaan karyawan juga dituntutnya. Tidak seorang karyawan diperbolehkan bersantai-santai pada jam kerja. “Bila perlu mereka bekerja sampai jam dua atau tiga pagi, dan akan tetap saya tunggui. Jika sakit maka akan saya tanggung pengobatannya.”

Peningkatan disiplin dan loyalitas karyawan yang dibarengi dengan perhatian terhadap kondisi karyawan itu sendiri, ternyata berbuah manis. Tiga tahun sejak dinyatakan kolaps, Berau Coal kembali dinyatakan aktif, dan produktif. Bahkan, kini dinobatkan sebagai perusahaan tambang lima besar di Indonesia.

“Saya bangga sekali. Warga Indonesia sesungguhnya memiliki potensi untuk menciptakan negara yang maju. Mereka sebenarnya hanya memerlukan tantangan,” ujar penyantap gado-gado baik di jalanan ataupun restoran ternama.

Dia memperhatikan betul karyawannya. Jefrey berpendapat, keberadaan satu unit usaha tidak cukup dilihat dari kacamata bisnis semata. “Pengembangan sumber daya manusianya juga penting.” Dia menambahkan, “Perusahaan memang harus untung, tetapi karyawan juga harus punya masa depan setidaknya hidupnya terjamin hingga masa pensiunnya.”

Terkait dengan manusia pula, Jefrey pun tak keberatan dengan program Corporate Social Responsibility. Tapi dia tak setuju jika masalah ini diatur dalam sebuah undang-undang. “Menjadi aneh,” katanya.

Dia berpendapat, CSR adalah tanggung jawab moral suatu perusahaan baik kepada masyarakat, lingkungan dan negara. “Anggaplah persahabatan antara perusahaan dengan masyarakat. Masa pertemanan harus diatur di dalam undang-undang? Semuakan orang tahu tata caranya, tidak perlulah diatur,” ucapnya sembari tertawa.

Selain itu, di mata investor penobatan CSR menjadi bagian suatu undang-undang hanyalah tambahan pajak lainnya. Dengan begitu pihak perusahaan bisa saja melakukannya “kecurangan” dalam pelaksanaannya. “Bila sudah demikian maka saya sangat menolak aktivitas CSR-nya tetapi bukan CSR-nya sendiri.”

Kegiatan sosial memang menjadi salah satu perhatian Jefrey. Kini dia tengah mengembangkan yayasan pendidikan bagi anak-anak tidak mampu yang tinggal di kawasan pedalaman Kalimantan. Dia mengaku, selagi masih diberikan tenaga oleh Tuhan, dia memilih untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

Itulah mengapa di masa pensiunnya sekarang, Jefrey masih melakoni kerja sebagai dosen nonformal dan pembicara di beberapa kesempatan. “Yang terpenting adalah kita harus rajin bersyukur,” ujarnya di akhir pembicaraan .

Suci DH/ Jurnal nasional 11 Oktober 2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 22, 2007 in reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: