RSS

Etiskah Kita Membaca Diary Orang Lain?

03 Sep

Diary…., kurasa setiap orang punya ‘buku sejarah’ itu. Meski terkadang hanya sekumpulan kertas-kertas yang berisi pemikiran, perasaan, cara pandang, dan segala hal yang terlintas di benak si penulis. Banyak orang yang beranggapan, karena ‘buku sejarah’ itu bertulis segala hal di kehidupan si penulis, maka buku itu menjadi begitu pribadi. Privasi, katanya..Tapi sebatas apa privasi itu? bukan kah kamar tidur kita juga privasi? namun tetap, mereka yang kita undang masih bisa memasukinya. lalu, adakah aturan itu juga diterapkan di buku diary ini?

Jujur saja aku tidak bisa menerima jika seseorang yang tanpa seizinku membaca diary itu. Aku merasa diinjak-injak, dicemooh dan diejek-ejek dengan cara mereka mencari informasi tentang kehidupanku…mungkin itulah alasan mengapa aku tidak cocok menjadi seorang artis yang kehidupannya siap diungkit oleh para pencari berita.

aku tidak menyangkal jika buku diary yang sudah ku tulis sedari kecil, sering pula di baca oleh ‘mama’…meski awalnya aku marah, namun dengan sikap yang ‘sok bijaksana’ aku melupakan kejadian itu dan akhirnya menjadi terbiasa dengan tindakan mama mencari tahu kehidupan anaknya. toh, hingga saat ini wajar kurasa jika ia masih mencuri-curi waktu untuk mengintip buku yang penuh kerahasiaan itu.

aku juga tidak menyangkal jika dibilang sering meng-‘open house’-kan diaryku. tidak jarang orang-orang tepercayaku kupersilahkan membaca diary, bahkan kusodorkan di wajah mereka. itu karena aku ingin mereka tahu isi hati ini dan juga pemikiran ini. Dengan membacanya, setidaknya mereka paham akan diriku.

namun, aku sangat berang saat ‘bunda’ yang notabennya adalah adik ibuku, membaca diary itu secara diam-diam. dilanjutkan dengan bersikap acuh kepadaku…kebetulan aku tinggal di rumahnya. awalnya aku bingung mengapa semingu lebih ia memilih diam dan mengacuhkan ku. padahal baru saja ku membantunya mempersiapkan pernikahannya..

jawabnnya muncul, di sabtu siang kala aku tengah bersenda ria bersama calon pendamping hidup. ia memanggilku, dengan mimik wajah yang menunjukkan sikap bijaksana (walau ku tahu itu kepura-puraan) ia berkata: “terimakasih atas penilaian mu selama ini kepada bunda”.

aku yang termangu melihat dua buku pribadiku di tangannya dan dengan tampa ragu-ragu ia hadapkan ke wajahku…aku merasa bak ditampar keras-keras. Amarah membludak, aku tak lagi memandangnya sebagai Bundaku (bibi), aku tak lagi memandang hormat kepadanya karena melanggar privasiku, dan aku jengkel karena ia tidak sanggup menerima konsekuensi setelah membaca diary ku diam-diam. ingin ku maki, tapi aku tetap menjaga sopan santun ku sebagai keponakannya.

baru aku sadar pernyataan mama yang menyampaikan bahwa bagaimanapun ia adalah mama cici juga, pengganti mama di sana, adalah untuk menunjukkan ia punya hak yang sama. aku yang dirudung amarah, menolak itu mentah-mentah, bahkan seorang anak hanya bisa dinikahkan oleh pamannya bukan bibinya. aku tidak bisa menerima bahwa ia pantas melewati batas dalam memperlakukan aku sebagai anaknya.

suasana rumah setelahnya bertambah kacau, dia jarang bicara dan memandang lurus ke mataku. bahkan, kami layaknya tengah bermain kucing-kucingan. yang menang dia yang berhasil dan bertahan untuk bersembunyi. akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi setelah tersandung persoalan yang sama dengannya. aku tidak ingin merusak hubungan keluarga dan aku tidak ingin merusak nama baik orangtuaku.

aku pun pergi…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 3, 2007 in aku dan dia, home

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: