RSS

Gak Siswa Gak Alumni IPDN Sama Saja

14 Agu

Kalau baru-baru ini yang banyak dikomentari masih berkisar kelakuan kasar para siswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), lain pula dengan cerita kali ini yang diangkat di halaman pertama koran harian Warta Kota, tanggal 14 Agustus 2007.

Dengan judul, “Alumnus IPDN Siksa Tiga Limnas”, kita jelas dong maksudnya apa. Jadi tabiat kekerasan yang sudah menempel semenjak menjabat sebagai siswa IPDN tetap saja menempel hingga di jenjang karier. Alah bisa karena biasa, bukan?

Bagi yang belum tahu ceritanya, boleh deh clinguk dikit di tulisan ku kali ini. Menurut penulisan Warta Kota, si alumnus yang bernama Aswyne A Nasution (wah satu marga ni) itu, kini menunjukkan keberhasilannya dengan menjabat sebagai Lurah Tanah Sereal di Jakarta Barat. Kasus penyiksaan itu dimulai, saat ketiga petugas dinas perlindungan masyarakat (limnas) yang ia pimpin ditemukan tertidur pulas saat bertugas di kantor.

Melihat anak buahnya yang asik merajut mimpi, Aswyne pun naik pitam. Dengan geram ia membangunkan ketiga anggota tersebut, memaki-makinya, dan berujung ke aksi penyiraman air ke tubuh ketiga petugas tersebut. Tidak diceritakan sih apakah ketiganya lalu memberontak atau paling tidak sempat beradu argumen. TEtapi, yang jelas penderitaan batin ketiganya tidak berhenti di situ saja.

Aswyne menambah luka mereka dengan luka fisik. Bayangkan saja setelah puas caci maki dan menyiram, ketiga petugas itu di suruh push up!! Memangnya mereka siswa IPDN? (Nah, yang ini juga gak jelas). Selesai Push Up, mereka disuruh berguling-guling, sementara sang alumnus menginjak-injak tubuh mereka. Benar-benar tidak manusiawi. Bukannya mengingatkan dengan baik dan bijak, malah disiksa dari fisik hingga ke mental.

Parahnya lagi, kejadian itu berlangung d malam hari diakhir Juli lalu. Pantaskan seorang manusia merasa ngantuk di malam hari? toh itu kenikmatan dan kesempatan yang diberikan Allah untuk manusia beristirahat. Menurut kesaksian para petugas yang disiksa itu, mereka pun tertidur bukan dengan santai berebah di kasur. Melainkan cuma tidur di bangku dengan posisi duduk karena merasa sudah sangat lelah.

Hal ini tentu menggeramkan, namun kita juga tidak bisa menyalahkan seorang anak yang bertindak kasar karena didikan orang tuanya yang kasar bukan? jadi tidak saja semerta-merta kita bisa menyalahkan orang yang bertindak kekerasan. Tetapi, ada baiknya semua itu di telit. Karena saya yakin, semua itu ada akarnya baik sikap maupun tabiat kita. So, gimana kalo kita rubah cara mendidik anak maupun siswa dan mahasiswa yang termasuk kasar? yah…dimulai dari diri kita dan sekeliling saja deh.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 14, 2007 in home, reportase

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: