RSS

Gunung Pertama yang Ku Daki…

13 Mei

Gunung Merapi

hi..ini postingan tulisanku yang pertama. maklum tengah belajar untuk tidak tertinggal keahlian dalam membuat blog. aku memilih untuk menulis gunung yang pertana kali ku daki, karena itulah pengalaman kecil yang paling berkesan di ingatanku. bagaimana tidak, saat usia baru mencapai lima tahun, aku sudah bisa mencapai puncak gunung merapi di Berastagi, Medan.

yup..lima tahun, dengan kaki yang mungil badan yang montok, aku melangkah sedikit demi sedikit hingga akhirnya sampai di puncak Gunung Sibayak, Berastagi. tapi, saat itu jelas aku tidak sendirian. ada papa, mama, adikku, kakek, nenek, adik laki-laki papa, dan teman gunung kakekku.

sebelum bercerita lebih lanjut, sepertinya aku harus lebih dulu mengenalkan nama panggilan untuk ‘rekan-rekan’ hikingku yang pertama itu. untuk panggilan papa dan mama….tetap sama. papa iskandar dan mama susi. lalu, adikku yang manis (karena dia berkulit hitam manis), namanya ira. tetapi lebih sering dipanggil keling (=hitam).

Untuk kakek, aku sedikit berbeda dengan yang lainnya. aku memanggilnya ayah, ya….ayah. bukan tampa alasan, karena sedari usia satu tahun aku terus dirawatnya. alhasil kata pertama yang kudengar saat mengenalnya adalah ayah. jika dia menjadi ayah, jelas nenekku juga tidak dipanggil dengan sebutan biasa. ia kupanggil emak.

sedangkan adik papa yang ikut menemani adalah pamanku yang paling ganteng sedunia..namanya Heri, tetapi karena dia anak paling bungsu di keluarga, sesuai adat Padang iapun dipanggil uncu. nantinya kusebut sebagai pak uncu. terakhir, untuk rekan naik gunung Ayah. sayangnya aku lupa siapa namanya (aku memang sedikit kesulitan mengingat nama orang), jadi panggil saja pak ucok.

ok…semua peran sudah diperkenalkan. tapi..eit…kalian lupa berkenalan dengan tokoh utamanya. tentu itu adalah aku sendiri..panggil aku dengan sebutan Ci..he2x.

perjalanan menuju puncak gunung Sibayak yang ketinggiannya mencapai 2.094 meter dari permukaan laut itu, dimulai dengan mempersiapkan bekal untuk makan siang. kebetulan ayah membuak sebuah warung makan nasi yang paling terkenal di Berastagi kala itu, warung makan nasi Muslim. banyak wisatawan asing yang datang berkunjung. selain karena masakan emak yang enak, juga karena ayah sangat mudah bergaul dan bisa berbahasa inggris.

kami tidak membawa kotak makan kala itu, melainkan di bungkus menggunakan kertas bungkus. beberapa sayur berkuah dimasukkan kedalam kantung plastik transparan. barulah selanjutnya dimasukkan ke dalam tas ransel yang dibawa ayah, papa dan juga pak uncu heri.

setelah selesai semua perlengkapan, kamipun berangkat. untuk menuju pintu masuk gunung merapi, kami perlu naik angkutan umum terlebih dahulu. tidak terlalu lama, hanya butuh 10 hingga 15 menit saja. jalur yang biasa digunakan untuk pendakian, dahulu ada dua, yaitu melalui desa Raja Berneh (semangat gunung) dan berastagi sendiri. jelas kami memilih dari berastagi, buat apa berputar-putar.

sayangnya kala itu aku masih terlalu kecil, jadi tidak ingat berapa ongkos yang perlu dibayar untuk sampai di pintu masuk. tetapi jelas tidak terlalu mahal, karena jaraknya yang dekat. jalan masuk menuju hutan gunung Sibayak kala itu sangat rindang. satu sisi akan terlihat tebing-tebing dengan pepohonan yang masih alami dan di sisi lainnya terkadang ditemui hamparan ladang sayur milik warga.

ada ladang wortel, selada, kol dan sayur-sayur lainnya yang khas Berastagi. sayur-sayur itu tumbuh dengan mudah dan segar, bahkan wortel yang baru dicabut dari tanahpun terasa manis dan lezat. penyebabnya tidak lain karena suhu di kawasan Berastagi sangat dingin dan cocok untuk tanaman sayur.

tidak terasa seperempat perjalanan sudah kami tempuh saat ayah menawarkan untuk beristirahat sejenak sambil makan siang. setelah melihat-lihat kondisi sekitar, akhirnya ayah memilih meja makan yang cukup besar untuk kami semua. jangan berfikir meja makan itu dari kayu seperti biasa yang kita temui di kawasan-kawasan wisata. melainkan sebuah batu gunung yang cukup besar yang berada di pinggi jalan dengan pemandangan ladang sayur di sisi kanan dan air terjun kecil di sisi kiri.

wahhhhh…pokoknya indah dan menyenangkan sekali. di air terjun mungil itu seorang ibu-ibu atau inang-inang kalo orang Medan bilang, tengah mencuci hasil ladangnya. tampa malu dan ragu, ayah mendatangi sang ibu dan berbicara sejenak. ternyata ayah menanyakan apakah boleh kami meminta sedikit sayur seladanya? jelas saja jawabannya ya, karena memang para petani disana tidak pelit-pelit kok.

saat dimakan, ummm….yummmyyy…sayur selada itu terasa manis dan gurih. enak frends, benar-benar enak. sejak saat itu, aku jadi tergila-gila dengan sayur lalapan yang disebut selada itu. sudahlah dari pada memikirkan selada terus, kita lanjutkan saja ya perjalanannya.

setelah kenyang kamipun lanjutkan perjalanan. sedikit demi sedikit, aku berjalan meski kadang ada juga saat tertentu aku digendong papa dan ayah, kami mulai memasuki jalur hutan. jalurnya hanyalah jalan setapak bekas jejak kaki yang dilewati para warga atau pendaki gunung lainnya.

jalur pendakian Gunung Sibayak memang terkenal sangat mudah, bahkan untuk para pemula sekalipun. perjalanannya tidak terlalu curam. menurut bahasa para pecinta alam, jalur Sibayak banyak bonusnya alias banyak lahan landainya.

sedikit demi sedikit puncak Sibayak mulai terlihat, bau khas belerang juga mulai tercium. aku jadi tambah bersemangat. yup..yup…ayo puncak-puncak….

akhirnya sampaaaaaiiiiii….wah pemandangan di atas memang ebnar-benar menakjubkan..di kejauhan bahkan bis terlihat pemandangan kota Medan. hm..subahanallah..indah sekali. selanjutnya untuk cerita perjalanan pulang, dilanjutkan di babak ke dua ya..hehe..biar semakin penasaran.

thanks ya yang baca…ayo..komentar dong

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2007 in jalan-jalan

 

3 responses to “Gunung Pertama yang Ku Daki…

  1. agusdd

    Agustus 14, 2007 at 12:01 pm

    hei.. kenalin call me CAKEP

    emang gitu tah … haaa..
    lucu juga, aku gak kebayang kamu kecil2 dah mendaki gunung. jangan2 di gendong. amo.. tapi pasti lucu deh kalo anaku nanti niru kamu, kecil putih lincah… hemm

     
  2. iyra

    Agustus 15, 2007 at 12:36 pm

    wah…ga nyangka kaka ngingetnya detail gitu…aku aja da lupa..
    ralat
    tampa>>tanpa
    keling>>>unin

     
  3. keonk n beng [TURTLES]

    September 16, 2007 at 12:17 pm

    dari TURTLES
    [pecinta alam yg dbesarkan oleh pngalaman}

    apapun gunungnya,, mw gede atw kecil,, mw berslju atw nggak,,
    yang penting lo bs memahami tu gunung.. krna stiap gunung pasti memiliki cinta di setiap puncaknya..

    salam rimba….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: