setelah tiga tahun mengarungi biduk rumah tangga, makin jelas terlihat hidup berkeluarga itu tidak mudah. but, it’s fun…so fun..saya jamin anda yang suka tantangan akan setuju dengan saya.
saya sering mengumpakan pernikahan itu bagaikan upaya mendaki gunung. gunung beneran lho, jangan disamakan dengan bukit ya. ada masanya kita sangat mudah berjalan, tapi ada masanya ras putus asa untuk mencampai puncak merayu dan menggoda.
ada masanya, cuaca begitu mendukung upaya naik ke puncak. namun, ada saatnya badai angin menyerang bahkan ketika puncak sudah ada di depan mata. ya saya jadi teringat betapa ganasnya badai di lereng gunung merbabu, ketika bersama “abi agus” masih menjadi anggota mapala di kampus. saya sangat senang dengan cerita itu, karena menggambarkan betapa sesinerginya jalan pemikiran kami.
terima kasih tuhan atas tiga laki-laki yang kau titipkan di kehidupanku, alhamdulillah
curcol dikit ya…jadi di tengah perjalanan menuju puncak merbabu, rombongan diterpa badai angin yaaaangg sangat kencang. suhu juga sangaaat dingin, saya sampai tidak bisa merasakan tangan sangkin dinginnya. teman-teman lain memilih untuk membuat perapian, karena tak tahan dengan dinginnya. tapi saya dan abi agus, berfikir bahwa harus ada yang membangun doom (tenda) agar dapat terlindung dari terpaan angin kencang.
sayangnya, teman-teman tidak lagi mampu bergerak sangking dinginnya. berdua kami berupaya membangun doom. susah payah, kedinginan, dan akhirnya doom itu berhasil dibangun.
see….begitu juga biduk pernikahan. harus ada kesamaan tujuan dan misi, meski perbedaan mewarnai. saya melihat abi agus memiliki komitmen yang kuat tentang pernikahan, bukan sekedar karena “saya cinta kamu”, “saya sayang kamu”. karena buktinya bumbu satu itu tidak selalu bisa membuat masakan berhasil di masak. alias rumah tangga bertahan. lagipula, jika kita komit apapun halangan dan rintangan insyaalah bisa dilewati.
oh ya, satu lagi yang harus diingat untuk Anda yang akan memulai biduk rumah tangga. jika pasangan Anda orang Indonesia tulen, ingatlah bahwa menikah bukan hanya terjadi antara anda dan si dia. melainkan juga dengan keluarga besarnya. jadi sepertinya tidak ada salahnya jika anda juga harus bersusah payah sedikit menyenangkan keluarga si dia, dan tidak terlalu fokus menyenangkan dia..







