awalnya saya hanya mengelus dada saat teman bercerita tragedi kecelakaan Wang Yue. “Ada anak kecil usia dua tahun di China ditabrak dua mobil box, dan tidak ada satu orangpun yang lewat disampingnya menolong, hingga orang ke 18 yang lewat langsung menariknya dari tengah jalan”. tragis, pikir saya waktu itu.
tetapi, saat sebuah koran nasional menyajikan urutan gambar CCTV kecelakaan anak yang kemudian diketahui bernama Wang Yue itu, saya tergelitik untuk melihat langsung di YouTube. cukup nekat saya pikir, tapi saya penasaran kenapa 18 orang itu tidak membantunya. di koran disebut suasana gelap. tapi, ah mas iya? seberapa gelap jalan di malam itu hingga seorang anak tergeletak di jalan dengan penuh darah tak terlihat.
saat menyaksikan detik-detik tragedi Wang Yue, saya tidak sanggup menahan derai air mata. meski saya dikantor dan disaksikan rekan kerja, air mata tidak dapat saya bendung. “Mengapa? mengapa mereka tidak membantunya?” gelap!!! jika gelap mengapa mereka bisa menghindarinya? “memangnya dia anak kucing”. ya Allah, perih hati hamba melihatnya. apalagi saat tangannya menggapai-gapai sebelum akhirnya mobil kedua melindasnya.. ya allah, mengapa kau tutup mata dan hati mereka?
hati saya pun berteriak, “Jangan menyerah Yue Yue, ibumu tidak menyerah, mereka yang membantumu tidak menyerah, kamipun tidak henti mendoakanmu..ku mohon jangan menyerah..dan Allah hamba mohon jangan kau bawa dulu malaikat itu, biarkan ia jadi pelajaran hidup bagi hamba-hambamu yang lain. jangan menyerah Yue Yue…jangan”
berbagai media nasional dan internasional, Facebook, Twitter dan lainnya dipenuhi berita Yue Yue. terakhir kondisinya kritis dan sistem otaknya mati. tapi saya tetap berharap yue yue tidak menyerah. banyak dokumen yang menunjukkan keajaiban tubuh seorang anak berjuang dalam keadaan kritis. dan mereka berhasil. “Ya yue yue kamu pun bisa menjadi salah satu keberhasilan itu”.
semoga, hilangnya rasa sosial itu tidak menular ke Indonesia. apapun alasannya, rasa kemanusiaan harus tetap dijaga. humanity….dan air mata saya terus menetes mengingat yue yue. pikiran saya tidak tenang menanti kabar terbangunnya yue yue dan menorehkan senyum untuk ibunya. “Yue yue, berjuanglah nak”..







