RSS

Arsip Harian: Oktober 10, 2011

Dinas Sosial, Dimana Kreatifitasmu?

sepertinya masalah lonjakan penduduk baru di Jakarta, gak akan selesai dengan operasi yustisi aja ya?perlu aksi kreatif dan tepat dari dinas sosial untuk memperkecil arus migrasi itu. setidaknya, mereka yang hadir memiliki kompetensi dan skill yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis di Jakarta.

jangan lagi berfikir “apa saja bisa dijual di Jakarta. apa saja bisa jadi duit”. memang benar, tapi anda butuh kreatifitas, ketekunan, niat, dan kerja keras. ayolah, para sarjana S1 saja mulai sulit mencari pekerjaan, apalagi anda yang tidak memiliki “modal” sama sekali.

tapi, saya penasaran bisakah dinas sosial di jakarta aktif dan kreatif seperti di negara maju lainnya. mereka menjadi fasilitator dan mediator bagi para migran ini. seperti dalam tulisan saya di media Jurnal Nasional, dinas sosial setidaknya menyediakan fasilitas untuk meningkatkan pendidikan dan skill para migran agar sesuai dengan kebutuhan. sekaligus menjadi penyaring dan fasilitas untuk para pelaku bisnis.

gambaran saya, ketika “orang desa” datang ke Jakarta mereka segera mendaftarkan identitas yang berisi berbagai informasi skill ke dinas sosial. disana mereka bisa menunggu dalam seminggu, untuk mengetahui adakah lowongan yang sesuai dengan kemampuannya. Jobs DB nya dinas sosial Jakarta, begitulah gambarannya. selama seminggu itu, mereka juga mendapatkan penyuluhan, setidaknya cara yang tepat untuk memulai peluang di ibukota. misalnya bagaimana menulis surat lamaran, bagaimana menjual diri dalam wawancara, mengetahui skill apa saja yang sedang dibutuhkan DKI Jakarta dll.

tapi ada batasan. mereka hanya memiliki “jatah hidup” di Jakarta satu tahun, misalnya. tentu saja ada penampungan bagi mereka yang tidak memiliki keluarga, dan fasilitas dapur bersama untuk mengakomodasi mereka. lewat dari satu tahun, jika tidak ada kemajuan, mereka dipulangkan. dan jika mereka kembali lagi, harus memiliki kelebihan dibanding sebelumnya. dan dinas sosial memiliki teknik khusus untuk memonitoring mereka. teknologi sekarang saya rasa cukup canggih untuk itu.

berikut tulisan di Jurnal Nasional, yang saya harap segera terbit:

Kriminalitas Jakarta Tinggi:

Dinas Sosial Tidak Bekerja Maksimal

Menurunnya daya dukung hidup di Jakarta, bukan faktor tunggal pemicu meningkatnya tingkat kriminalitas. Ketidakhandalan Dinas Sosial Jakarta menyediakan fasilitas dan informasi yang cukup, khususnya seputar lowongan pekerjaan bagi para pendatang baru dan bertindak tegas menghadapi migrasi besar-besaran dari desa ke kota, ikut pula memicu.

Pengamat psikodinamika dalam masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), Lukman S. Sriamin mengatakan, kinerja Dinsos DKI Jakarta seolah-olah dilakukan dengan setengah hati terutama dalam menangani lonjakan pendatang baru di Jakarta. Kebijakan hanya sebatas memberikan denda bagi warga baru dalam operasi yustisi, yang menurutnya bagaikan operasi menyemai calon-calon pelaku tindak kriminal di Ibukota.

”Mereka yang datang tanpa tujuan, tanpa perencanaan yang matang, yang hanya berfikir ’yah, lihat nanti saja setelah tiba di Jakarta’, berpotensi besar melakukan tindak kriminal. Terutama setelah harapan mereka putus dan tidak memiliki solusi untuk bertahan di Jakarta,”ujar Lukman saat dihubungi, Jumat (07/10) lalu.

Tekanan hidup yang sudah pasti jauh lebih besar ketimbang di desa, tidak selalu bisa ditangani dengan baik oleh mereka yang baru datang dari desa. Jika kepribadian mereka tidak kuat, sudah pasti sangat mudah ’jatuh’. Bahkan, Lukman menggambarkan ketika putus asa sudah menghampiri, maka akan sangat mudah bagi mafia-mafia jalanan memberikan ’mimpi indah’. ”Mereka akan mudah dikendalikan, dibakar emosinya, bahkan dibeli dalam arti khusus untuk kepentingan individu atau organisasi tertentu,”katanya.

Itulah mengapa peranan dinas sosial sangat penting, terutama dalam mengawasi, memfasilitasi dan mengatur mereka yang berniat mengadu nasip di Jakarta. Lukman menilai tidak akan sulit bagi Dinsos untuk menyediakan fasilitas pendidikan bagi para pendatang baru Jakarta sekedar untuk mempersiapkan mereka memulai hidup di Jakarta.

Dengan begitu, kecil kemungkinan warga desa yang datang tidak memiliki bekal pendidikan, pengalaman dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan kota Jakarta. Fasilitas ini juga akan memudahkan pemerintah untuk memfasilitasi berbagai kegiatan bisnis di Jakarta yang membutuhkan tenaga kerja yang sesuai.

Namun ketika mereka tidak berhasil, maka tindakan tegas harus dilakukan. ”Beri mereka rentang waktu untuk menentukan apa yang akan dilakukan di Jakarta, selama itu pengawasan tetap dilakukan. Jika dalam rentangan itu mereka gagal, maka tidak ada jalan untuk kembali ke desa asalnya,”kata Lukman.

Ketegasan juga diharapkan dapat ditunjukkan oleh aparat penegak hukum. Kebiasaan aparat mudah melakukan lobi diluar prosedur hukum, memberikan contoh yang buruk bagi penduduk.  ”Ah, mereka yang ketangkap lagi apes saja,” kata Lukman menggambarkan apa yang ada dibenak warga saat melihat tindak kriminalitas di Jakarta.  dan, pemikiran demikian harus segera diperbaiki. “Tunjukkan bahwa penegakkan hukum ada di Jakarta. Di kota-kota maju saja masih kecolongan, apalagi Jakarta,”ujarnya.

 

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 10, 2011 in reportase

 

Berfikir Negatif

Cinta hadir untuk memberikan harapan dalam hidup

Jujur. Saya tidak suka “dicap” senang berfikir buruk. Seudzon, begitulah katanya. sedih lho, dibilang begitu. meski saya mencoba berfikir positif, bahwa saya harus belajar juga untuk bisa dikritik.

dulu, saya memberanikan diri untuk menangis di depannya. hanya agar ia juga belajar bahwa “sesuatu” itu menyakiti saya. membuat hati saya terluka. membuat saya begitu “terkejut” dengan tema pembelajaran dalam rumah tangga ini. entah mengapa saya merasa menangis tidak lagi perlu di depannya. dan entah kapan saya memutuskan untuk membawa semua kesedihan itu dalam tidur.

menahan rasa itu tidak baik. emosi ada bukan untuk di tahan (saya benci lagu-lagu radio yang sekarang saya dengar sambil menulis, membuat ingin menangis saja). tapi ia untuk di atur. menemukan cara meluapkannya dengan tepat sehingga tidak membuat yang lain terluka.

diam juga bukan cara yang tepat. saya sadar itu. tapi ini cara saya mengelolanya. agar tidak keluar nama-nama binatang itu dari mulut ini. apalagi harus saya tujukan kepada dia yang saya sayang.

saya lebih senang, diam sejenak dan membicarakannya kemudian, ketika kita bisa berbicara. tapi…sepertinya saat itu hilang sudah. kita memilih untuk membagi waktu tersisa pada mereka buah hati kita.

tapi itu perlu. saya perlu waktu kita berbicara lagi. berbicara apa salah saya. apa yang memberatkan hati mu. apa yang membuatmu kesal. karena saya sangat berharap kita bisa belajar bersama-sama. jangan biarkan semua masalah menghilang dan akan kembali ketika salah yang sama terulang. karena sakitnya lebih dalam.

“Jangan berputus atas saya”…itu sangat penting.

haaaaahhh..bismilah,

“coba pahami, maklumi saja, tidak ada laki-laki lagi seperti dia saat ini..”

ya saya akan coba “lagi” memahami dan memaklumi. semoga dia melakukan hal yang sama dengan saya. Ya tuhan…hanya ada kata “bertahan” untuknya di hati saya..jauhkan kata lainnya.

 
1 Comment

Posted by pada Oktober 10, 2011 in aku dan dia

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.