RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2011

Ia pergi

baru saja saya mengupload tulisan tentang Wang Yue…dan berusaha mencari fotonya di situs jejaring..namun saya mendapatkan kabar duka..Wang Yue meninggal dunia

selamat jalan Wang Yue sayang, cinta kami untukmu..Selamat Jalan Wang Yue sayang, cinta kami untuk mu

hamba memang tidak pantas menggugatmu Ya Allah. kebaikan mungkin ada di pilihanmu..hamba hanya berharap ia bisa menjadi simbol kembalinya rasa kemanusiaan di umat-umat mu ini…

selamat jalan wang yue sayang…semoga tidak ada lagi anak di dunia ini yang diacuhkan seperti mu..

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 21, 2011 in Tak Berkategori

 

Tragedi Wang Yue

awalnya saya hanya mengelus dada saat teman bercerita tragedi kecelakaan Wang Yue. “Ada anak kecil usia dua tahun di China ditabrak dua mobil box, dan tidak ada satu orangpun yang lewat disampingnya menolong, hingga orang ke 18 yang lewat langsung menariknya dari tengah jalan”. tragis, pikir saya waktu itu.

tetapi, saat sebuah koran nasional menyajikan urutan gambar CCTV kecelakaan anak yang kemudian diketahui bernama Wang Yue itu, saya tergelitik untuk melihat langsung di YouTube. cukup nekat saya pikir, tapi saya penasaran kenapa 18 orang itu tidak membantunya. di koran disebut suasana gelap. tapi, ah mas iya? seberapa gelap jalan di malam itu hingga seorang anak tergeletak di jalan dengan penuh darah tak terlihat.

saat menyaksikan detik-detik tragedi Wang Yue, saya tidak sanggup menahan derai air mata. meski saya dikantor dan disaksikan rekan kerja, air mata tidak dapat saya bendung. “Mengapa? mengapa mereka tidak membantunya?” gelap!!! jika gelap mengapa mereka bisa menghindarinya? “memangnya dia anak kucing”. ya Allah, perih hati hamba melihatnya. apalagi saat tangannya menggapai-gapai sebelum akhirnya mobil kedua melindasnya.. ya allah, mengapa kau tutup mata dan hati mereka?

hati saya pun berteriak, “Jangan menyerah Yue Yue, ibumu tidak menyerah, mereka yang membantumu tidak menyerah, kamipun tidak henti mendoakanmu..ku mohon jangan menyerah..dan Allah hamba mohon jangan kau bawa dulu malaikat itu, biarkan ia jadi pelajaran hidup bagi hamba-hambamu yang lain. jangan menyerah Yue Yue…jangan”

berbagai media nasional dan internasional, Facebook, Twitter dan lainnya dipenuhi berita Yue Yue. terakhir kondisinya kritis dan sistem otaknya mati. tapi saya tetap berharap yue yue tidak menyerah. banyak dokumen yang menunjukkan keajaiban tubuh seorang anak berjuang dalam keadaan kritis. dan mereka berhasil. “Ya yue yue kamu pun bisa menjadi salah satu keberhasilan itu”.

semoga, hilangnya rasa sosial itu tidak menular ke Indonesia. apapun alasannya, rasa kemanusiaan harus tetap dijaga. humanity….dan air mata saya terus menetes mengingat yue yue. pikiran saya tidak tenang menanti kabar terbangunnya yue yue dan menorehkan senyum untuk ibunya. “Yue yue, berjuanglah nak”..

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 21, 2011 in reportase

 

Kerja Kantoran Picu Depresi

Depresi di kantor karena hubungan sosial yang tidak sehat

Depresi di kantor karena hubungan sosial yang tidak sehat

“Pssttt…loe tau gak gosip si A sama si F?”
“Kamu itu kerjanya apa sih!!?? gak becus!!”
“Waduh kemarin lupa absen, bisa-bisa gaji dipotong nih. arghhhh”

siapa bilang kerja itu enak? ayo, angkat jarinya. hehe..sedikit ya. enaknya paling tanggal-tanggal muda, setelahnya yang stress-lah, pusinglah, BT-lah, Bad Mood-lah, wah berbagai emosi negatif mewarnai dari hari senin sampai jumat. dalam 365 hari dikurangi hari sabtu, minggu dan libur nasional.

beban kerja di kantor bukan hanya fisik lho, karena ternyata beban pikiran paling besar pengaruhnya. suami saya, yang sudah lima kali pindah kantoran alias pindah kerja, sudah akrab sama yang namanya stress. kalo sudah begitu kayak kucing yang mau kawin deh, gak bisa diganggu..hehe..

nah, kalo sudah stress kesehatan badan juga ikut turun. jadi mudah sariawan, kena diare, kena migren, gak bisa tidur..emosi labil itu sudah pasti. buat sebagian orang adaptasi di tempat baru bisa mudah dilakukan, suami saya adalah yang sulit melakukannya.

stress tidak berhenti ketika melewati tiga bulan masa percobaan kerja. proyek yang mulai menumpuk, rekan kerja yang gak bisa kerja dalam tim, bos yang arghhh gak ngerti bawahan banget, sampai suhu ruangan kantor yang dingin abies bisa picu stress.

kalo stress ini tidak diatasi dengan baik, dan sejak dini, so pasti lama-lama bisa jadi depresi. psikolog membocorkan salah satu ciri Anda pekerja yang depresi…SUKA MELAMUN…

nah loh…coba ingat-ingat selama 12 jam kerja, banyakan kerjanya apa ngelamun? buka FB, ngetwit dan chating masih masuk aktivitas lho, jadi masih bisa dibilang aktif lah meski gak kerja (ups bela diri)..

kalo sudah begitu, jangan malu-malu untuk mencari bantuan. bisa dengan ngobrol ma sohib-sohib arisan, sama pasangan juga boleh lah, atawa cari ke RS. eit, kalo bicara masalah gangguan kejiwaan tidak harus ke RS jiwa lho. lebih benarnya datang ke psikiater. dan mereka yang datang ke psikiater bukan berarti “mad” ya..alias gelong..di luar negeri hal yang sangat wajar seseorang berkunjung ke psikiatri.

btw, tahu gak kalo di sejumlah perusahaan ada program pendampingan karyawan. mirip sama program guru BP saat sekolah dulu.

Fasilitas konseling yang sering disebut dengan program pendampingan karyawan (Employee Assistant Program) fungsi utamanya adalah untuk membantu karyawan dalam mengatasi masalah personalnya yang bisa mempengaruhi performa kerja, kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

Pelayanan ini diberikan gratis kepada karyawan dan anggota keluarganya, sebaliknya perusahaan membayar penuh penyelenggaran konseling untuk memberikan pelayanan tersebut. Dan jangan khawatir informasi kesehatan jiwa di program ini tidak akan bocor, kerahasiaannya sama dengan pelayanan kesehatan fisik.

sudah tahu dong kita punya hak untuk itu…tertarik untuk meminta perusahaan menyediakan fasilitas yang sama??? hehe..coba saja diajukan..who know your so lucky..

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 19, 2011 in Tak Berkategori

 

Dinas Sosial, Dimana Kreatifitasmu?

sepertinya masalah lonjakan penduduk baru di Jakarta, gak akan selesai dengan operasi yustisi aja ya?perlu aksi kreatif dan tepat dari dinas sosial untuk memperkecil arus migrasi itu. setidaknya, mereka yang hadir memiliki kompetensi dan skill yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis di Jakarta.

jangan lagi berfikir “apa saja bisa dijual di Jakarta. apa saja bisa jadi duit”. memang benar, tapi anda butuh kreatifitas, ketekunan, niat, dan kerja keras. ayolah, para sarjana S1 saja mulai sulit mencari pekerjaan, apalagi anda yang tidak memiliki “modal” sama sekali.

tapi, saya penasaran bisakah dinas sosial di jakarta aktif dan kreatif seperti di negara maju lainnya. mereka menjadi fasilitator dan mediator bagi para migran ini. seperti dalam tulisan saya di media Jurnal Nasional, dinas sosial setidaknya menyediakan fasilitas untuk meningkatkan pendidikan dan skill para migran agar sesuai dengan kebutuhan. sekaligus menjadi penyaring dan fasilitas untuk para pelaku bisnis.

gambaran saya, ketika “orang desa” datang ke Jakarta mereka segera mendaftarkan identitas yang berisi berbagai informasi skill ke dinas sosial. disana mereka bisa menunggu dalam seminggu, untuk mengetahui adakah lowongan yang sesuai dengan kemampuannya. Jobs DB nya dinas sosial Jakarta, begitulah gambarannya. selama seminggu itu, mereka juga mendapatkan penyuluhan, setidaknya cara yang tepat untuk memulai peluang di ibukota. misalnya bagaimana menulis surat lamaran, bagaimana menjual diri dalam wawancara, mengetahui skill apa saja yang sedang dibutuhkan DKI Jakarta dll.

tapi ada batasan. mereka hanya memiliki “jatah hidup” di Jakarta satu tahun, misalnya. tentu saja ada penampungan bagi mereka yang tidak memiliki keluarga, dan fasilitas dapur bersama untuk mengakomodasi mereka. lewat dari satu tahun, jika tidak ada kemajuan, mereka dipulangkan. dan jika mereka kembali lagi, harus memiliki kelebihan dibanding sebelumnya. dan dinas sosial memiliki teknik khusus untuk memonitoring mereka. teknologi sekarang saya rasa cukup canggih untuk itu.

berikut tulisan di Jurnal Nasional, yang saya harap segera terbit:

Kriminalitas Jakarta Tinggi:

Dinas Sosial Tidak Bekerja Maksimal

Menurunnya daya dukung hidup di Jakarta, bukan faktor tunggal pemicu meningkatnya tingkat kriminalitas. Ketidakhandalan Dinas Sosial Jakarta menyediakan fasilitas dan informasi yang cukup, khususnya seputar lowongan pekerjaan bagi para pendatang baru dan bertindak tegas menghadapi migrasi besar-besaran dari desa ke kota, ikut pula memicu.

Pengamat psikodinamika dalam masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), Lukman S. Sriamin mengatakan, kinerja Dinsos DKI Jakarta seolah-olah dilakukan dengan setengah hati terutama dalam menangani lonjakan pendatang baru di Jakarta. Kebijakan hanya sebatas memberikan denda bagi warga baru dalam operasi yustisi, yang menurutnya bagaikan operasi menyemai calon-calon pelaku tindak kriminal di Ibukota.

”Mereka yang datang tanpa tujuan, tanpa perencanaan yang matang, yang hanya berfikir ’yah, lihat nanti saja setelah tiba di Jakarta’, berpotensi besar melakukan tindak kriminal. Terutama setelah harapan mereka putus dan tidak memiliki solusi untuk bertahan di Jakarta,”ujar Lukman saat dihubungi, Jumat (07/10) lalu.

Tekanan hidup yang sudah pasti jauh lebih besar ketimbang di desa, tidak selalu bisa ditangani dengan baik oleh mereka yang baru datang dari desa. Jika kepribadian mereka tidak kuat, sudah pasti sangat mudah ’jatuh’. Bahkan, Lukman menggambarkan ketika putus asa sudah menghampiri, maka akan sangat mudah bagi mafia-mafia jalanan memberikan ’mimpi indah’. ”Mereka akan mudah dikendalikan, dibakar emosinya, bahkan dibeli dalam arti khusus untuk kepentingan individu atau organisasi tertentu,”katanya.

Itulah mengapa peranan dinas sosial sangat penting, terutama dalam mengawasi, memfasilitasi dan mengatur mereka yang berniat mengadu nasip di Jakarta. Lukman menilai tidak akan sulit bagi Dinsos untuk menyediakan fasilitas pendidikan bagi para pendatang baru Jakarta sekedar untuk mempersiapkan mereka memulai hidup di Jakarta.

Dengan begitu, kecil kemungkinan warga desa yang datang tidak memiliki bekal pendidikan, pengalaman dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan kota Jakarta. Fasilitas ini juga akan memudahkan pemerintah untuk memfasilitasi berbagai kegiatan bisnis di Jakarta yang membutuhkan tenaga kerja yang sesuai.

Namun ketika mereka tidak berhasil, maka tindakan tegas harus dilakukan. ”Beri mereka rentang waktu untuk menentukan apa yang akan dilakukan di Jakarta, selama itu pengawasan tetap dilakukan. Jika dalam rentangan itu mereka gagal, maka tidak ada jalan untuk kembali ke desa asalnya,”kata Lukman.

Ketegasan juga diharapkan dapat ditunjukkan oleh aparat penegak hukum. Kebiasaan aparat mudah melakukan lobi diluar prosedur hukum, memberikan contoh yang buruk bagi penduduk.  ”Ah, mereka yang ketangkap lagi apes saja,” kata Lukman menggambarkan apa yang ada dibenak warga saat melihat tindak kriminalitas di Jakarta.  dan, pemikiran demikian harus segera diperbaiki. “Tunjukkan bahwa penegakkan hukum ada di Jakarta. Di kota-kota maju saja masih kecolongan, apalagi Jakarta,”ujarnya.

 

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 10, 2011 in reportase

 

Berfikir Negatif

Cinta hadir untuk memberikan harapan dalam hidup

Jujur. Saya tidak suka “dicap” senang berfikir buruk. Seudzon, begitulah katanya. sedih lho, dibilang begitu. meski saya mencoba berfikir positif, bahwa saya harus belajar juga untuk bisa dikritik.

dulu, saya memberanikan diri untuk menangis di depannya. hanya agar ia juga belajar bahwa “sesuatu” itu menyakiti saya. membuat hati saya terluka. membuat saya begitu “terkejut” dengan tema pembelajaran dalam rumah tangga ini. entah mengapa saya merasa menangis tidak lagi perlu di depannya. dan entah kapan saya memutuskan untuk membawa semua kesedihan itu dalam tidur.

menahan rasa itu tidak baik. emosi ada bukan untuk di tahan (saya benci lagu-lagu radio yang sekarang saya dengar sambil menulis, membuat ingin menangis saja). tapi ia untuk di atur. menemukan cara meluapkannya dengan tepat sehingga tidak membuat yang lain terluka.

diam juga bukan cara yang tepat. saya sadar itu. tapi ini cara saya mengelolanya. agar tidak keluar nama-nama binatang itu dari mulut ini. apalagi harus saya tujukan kepada dia yang saya sayang.

saya lebih senang, diam sejenak dan membicarakannya kemudian, ketika kita bisa berbicara. tapi…sepertinya saat itu hilang sudah. kita memilih untuk membagi waktu tersisa pada mereka buah hati kita.

tapi itu perlu. saya perlu waktu kita berbicara lagi. berbicara apa salah saya. apa yang memberatkan hati mu. apa yang membuatmu kesal. karena saya sangat berharap kita bisa belajar bersama-sama. jangan biarkan semua masalah menghilang dan akan kembali ketika salah yang sama terulang. karena sakitnya lebih dalam.

“Jangan berputus atas saya”…itu sangat penting.

haaaaahhh..bismilah,

“coba pahami, maklumi saja, tidak ada laki-laki lagi seperti dia saat ini..”

ya saya akan coba “lagi” memahami dan memaklumi. semoga dia melakukan hal yang sama dengan saya. Ya tuhan…hanya ada kata “bertahan” untuknya di hati saya..jauhkan kata lainnya.

 
1 Comment

Posted by pada Oktober 10, 2011 in aku dan dia

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.