19
Nov
07

Kebon Singkong Medco di Lampung

Singkong sekarang tidak hanya dilirik pengusaha lokal saja loh, terbukti perusahaan energi dari luar negeri rela-relain duitnya buat beli lahan di Indonesia cuma untuk tanam singkong. Yang jelas bukan buat keripik atau tepung tapioka, karena kalau begitu tar saingan lagi sama warga Indonesia.

Tetapi, buat dijadikan bahan bakar alternatif di masa mendatang. Kini, perumusan mengenai perkembangan energi ini sedang gencar dibahas di pemerintahan. Beberapa investor malah sudah tanam modal. Jadi kita lihat saja nanti, bagi kalian yang ingin cari usaha sampingan, tanam aja singkong, dijamin di masa depan jadi juragannya deh…
Bioetanol Berkembang Bila Ada Subsidi

PT Medco Energi Chemicals telah menginvestasikan dana sebesar 45 juta dolar Amerika untuk pengembangan industri energi alternatif bioetanol yang menggunakan bahan baku singkong di Lampung, seperti yang disampaikan Presiden Komisaris Medco Energi Chemicals, Djatnika S Puradinata

Rencananya, “industri tersebut akan mulai beroperasi Februari 2008 dengan kapasitas produksi mencapai 180 kiloliter per harinya atau mencapai 60 ribu kilo liter per tahunnya,”ujar Djatnika yang ditemui Jurnal Nasional, dalam acara Kongres “World Renewable Energy; Regional Congress and Exhibition 2007” yang diadakan di Hotel Grand Hyatt, Senin (05/11) lalu.

Jika dibandingkan dengan kapasitas produksi di Brazil yang mencapai 500 kiloliter per harinya, “produksi di Indonesia tergolong masih sangat sedikit,”ujarnya.

Djatnika menambahkan, untuk mencapai target produksi Medco sedikitnya memerlukan 1200 ton singkong per harinya. Jika diasumsikan setiap hektar ladang singkong menghasilkan 30 ton sekali panennya, maka diperkirakan luas lahan yang dibutuhkan mencapai 13 ribu hektar.

“Untuk memenuhi pasokan bahan baku untuk mencapai target industri, Medco sementara ini membeli dari para petani sekitar karena belum memiliki lahan tanam sendiri,”jelas Djatnika lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1976 ini.

Sistem kerja sama yang digunakan dengan petani termasuk dengan memberikan bantuan awal untuk para petani demi mendukung peningkatan produksi hasil tanam. Diantaranya dengan menyediakan bibit singkong unggul, pupuk, pestisida dan lainnya.

Namun, tidak tertutup kemungkinan Medco akan memiliki lahan, karena ia merupakan salah satu strategi terbaik dalam mengembangkan industri bioetanol. Terutama karena harga bahan baku yang diproduksi lahan sendiri, tidak akan terganggu oleh fluktuasi harga di pasar.

Kelebihan Ubi Kayu Dibandingkan Tanaman Lainnya

Djatnika mengatakan, pabrik yang dibangun di Lampung bersifat multi feed stock design, sehingga bahan baku yang digunakan beragam jenisnya. Bisa didapatkan dari tetes tebu dan singkong. Akan tetapi untuk saat ini Medco memilih untuk memulai industri menggunakan bahan baku singkong.

Alasannya antara lain singkong merupakan tanaman yang sudah sangat dikenal oleh petani di Indonesia dan dapat ditanam dengan mudah di seluruh kawasan Indonesia meski tingkat kesuburan tanah di lahan tanam rendah. “Singkong merupakan tanaman yang sangat fleksibel dalam usaha tani dan umur panen. Ditambah lagi tahan dari cekaman biotik dan biotik,”jelasnya.

Selain itu, singkong dapat berproduksi dengan baik di lingkungan sup-optimal dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman lainnya. Bahkan, dengan adanya kemajuan teknologi pertanian saat ini produksi singkong meningkat dari awalnya kurang dari 10 kilogram menjadi lebih dari 20 kilogram per satu pohonnya.

Mengutip dari penelitian yang dilakukan Wahono Sumaryono dari Departemen Pertanian RI, sumber etanol tidak hanya berasal dari tebu dan singkong melainkan juga bisa didapatkan dari jagung, ubi jalar, sorgum, sweet sorgum, kentang, beet dan juga padi.

Namun, dari hasil penelitian tersebut diketahui efisiensi etanol yang tertinggi berasal dari jagung yang jumlahnya mencapai 400 liter per 1000 kilogram. Diikuti tetes tebu yang mencapai 250 liter per 1000 kilogramnya dan ubi kayu sejumlah 166,6 liter per kilogramnya. Tampaknya, kesimpulan tersebutlah yang menunjang Amerika memutuskan kebijakan memilih jagung sebagai bahan baku bioetanol.

Namun, bila diimplementasikan dari hasil panen masing-masing jenis tanaman maka tanaman yang menghasilkan etanol dengan produktivitas tertinggi adalah tebu disusul dengan ubi kayu. Itulah mengapa awal perkembangan industri bioetanol di Indonesia oleh sejumlah perusahaan memilih menggunakan bahan baku tetes tebu. Terlebih lagi, teknologi yang digunakan untuk memprosesnya tergolong murah.

Sayangnya, perkiraan jumlah produksi tetes tebu per tahunnya tidak dapat memenuhi kebutuhan jumlah bahan baku yang diperlukan untuk industri skala besar. Selain itu, industri bioetanol menggunakan tetes tebu akan bersaing ketat dengan kebutuhan pangan. Maka beralihlah para pelaku industri bioetanol menggunakan bahan baku singkong.

Menanggapi adanya ketakutan pengembangan bioetanol di Lampung akan bersaing dengan pemenuhan kebutuhan pangan, Djatnika menjelaskan bahan baku yang digunakan merupakan bahan baku non-konsumtif. “Singkong yang digunakan tidak dapat dikonsumsi karena beracun,”ujarnya.

Singkong yang dimaksud dikenal dengan singkong mukibat. Selama ini singkong yang banyak ditanam secara tradisional oleh warga Lampung khususnya dikawasan utara, digunakan sebagai bahan baku tepung tapioka.

Djatnika menambahkan pengembangan bioetanol di Lampung harus sesuai dengan prinsip pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia yang tidak hanya menitikberatkan pada pemenuhan pasokan energi saja.

Melainkan juga untuk mengurangi kemiskinan (pro-poor), menyiptakan lapangan pekerjaan untuk mengurangi angka pengangguran (pro-job), memperkokoh pembangunan nasional yang berkelanjutan (pro-growth), dan mendukung aksi penyelamatan bumi dari efek pemanasan global (pro-planet).

Pengembangan Bioetanol Perlu Subsidi

Menanggapi dukungan pemerintah dalam industri pengembangan BBN, Djatnika menyatakan Medco sama sekali tidak menghadapi kendala terutama untuk izin penggunaan lahan hak guna usaha (HGU) yang kebanyakan kini terlantar dan tidak produktif.

Djatnika mengatakan 100 persen dari hasil produksinya nanti akan diekspor ke beberapa negara di kawasan Asia, semisal China. Tetapi, dalam bersaing di pasar dunia Indonesia juga memiliki pesaing diantaranya Thailand, Filipina dan China. “Akan tetapi mereka juga baru mulai mengembangkan sama seperti kita”.

Ditanya apakah ada rencana untuk juga menjualnya secara domestik, ia mengatakan “jika pertamina memberikan harga yang cukup baik mengapa tidak”. Akan tetapi, hal tersebut tampaknya sulit untuk terealisasi terutama kala pasar domestik belum terbangun.

“Belajar dari pengembangan biodisel Pertamina sebelumnya, mereka mengalami kerugian yang lumayan besar,”katanya, pasalnya masyarakat lebih memilih untuk tetap mengonsumsi bahan bakar dari fosil dibandingkan BBN.

Menurutnya, harga BBN di dalam negeri akan kompetitif jika subsidi pemerintah untuk BBM dicabut sepenuhnya, atau memberikan subsidi pula kepada BBN. “Sumber dana subsidi cukup banyak kok, industri, para pendukung pengembangan BBN dan masyarakat kan membayar pajak,”ujarnya.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang turut mendukung perkembangan bioetanol di Indonesia juga dirasakan berperan penting. Semisal, penyediaan kendaraan yang menggunakan BBN ataupun bahan bakar rumah tangga yang beralih ke BBN.

“Pemerintah Indonesia selama ini sudah banyak melakukan observasi mengenai energi terbarukan. Sayangnya kelanjutannya baru sedikit yang dilakukan,”jelasnya.

Suci DH


4 Tanggapan ke “Kebon Singkong Medco di Lampung”


  1. 1 gelar
    Januari 18, 2008 pukul 1:33 am

    I’m so interesting with this topic,,by the way, saya lagi terlibat lomba penulisan makalah ilmiah tingkat fakultas nih, dan judul yang diangkat tentang bioetanol berbahan baku ubi kayu kultivar darul hidayah. tapi dari bbrp literatur yang saya baca, ternyata masih banyak tanaman lain memiliki beberapa keunggulan lebih baik (sebagai bahan baku bioetanol)daripada ubi kayu. tapi di artikel ini saya bisa menemukan jawaban, kenapa harus ubi kayu bukan tebu, atau bukan jagung?!
    walau demikian, saya masih memerlukan literatur yang lebih meyakinkan, yang menunjukan keunggulan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol dibandingkan tanaman lainnya..dari berbagai aspek..
    so, can you do me a favor, how to find a complete information about that…

    oia, apakah kultivar darul hidayah adalah varietas terbaik sebagai bahan baku bioetanol?
    di atas disebutkan, singkong yang ditanam sbg bahan baku bioetanol itu beracun, tapi ko’ dibuat tepung tapioka sama warga di lampung…
    hatur nuhun.

  2. 2 yoyo'
    Juni 27, 2008 pukul 3:51 pm

    Mbak, kalau Medco mah bukan perusahaan luar negeri. Pendirinya aja pribumi. Kalau sekarang jadi perusahaan bertaraf internasional bukan berarti jadi perusahaan luar negeri. Lain kali kalau nulis mungkin bisa lebih teliti, soalnya kan tulisannya dibaca orang di seluruh dunia.

  3. 3 agu3st
    November 4, 2008 pukul 1:19 pm

    mbak suci saya sangat tertarik tpi kalo boleh saya tw karakteristik singkong yang seperti apa yang bisa d buat bioetanol
    bagaimana proses pembuatannya

  4. 4 suci
    November 5, 2008 pukul 4:00 pm

    saat ini sudah ada beberapa jenis singkong yang sudah didaulat menjadi produk singkong unggulan untuk memproduksi bioetanol, pak agus. Pada intinya adalah, singkong yang dimaksud tentu memeliki kandungan etanol yang tinggi, mudah untuk diproduksi secara massal, dan sama sekali tidak mengganggu persediaan pangan untuk masyarakat.

    untuk proses pembuatannya, nanti akan coba saya tuliskan lagi. Tapi ada sebuah situs yang saya temui sedikit lebihnya menjelaskan prosesnya. bisa di klik di http://www.pasamu.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7:cara-membuat-bioetanol-dari-singkong&catid=1:latest-news&Itemid=18

    selamat mencoba ya


Tinggalkan Balasan




a

 

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

see this guys

foto bareng teman-teman kampus yang jauh-jauh datang

kegirangan seluruh rangkaian selesai

rancak-rancak datuk dari madiun..hahaha

sah jadi nyonya agus DD

merajut cinta di kepulauan seribu

perlengkapan snorkling siap

More Photos

Blog Stats

  • 36,358 hits