Dua investor asing asal China dan Amerika kini tengah melirik perkembangan industri bioetanol berbahan baku jarak di Indonesia. Alhilal Hamdi, Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati mengungkapkan, dua perusahaan itu adalah Chinese Seed Group Company, badan usaha milik negara China, dan Green Light Biofuel. Menurut Hilal, saat ini investor China tersebut tengah menanti ketersediaan lahan tanam seluas 200 ribu hektar untuk segera ditanami jarak. Sedangkan, investor asal Amerika mengalokasikan dana untuk lahan seluas 100 ribu hektar. “Setelah lahan tersedia industri go,”katanya akhir pekan lalu di Jakarta.
China akan menginvestasikan sekitar US$200 juta dengan target produksi sebanyak 1 juta ton per tahunnya.. Menurutnya, dengan harga dunia saat ini Indonesia bisa mendapatkan keuntungan sekitar $500 juta per tonnya hanya dari satu investor saja.
Mengenai lokasi lahan, kata Hilal, kawasan yang nantinya digunakan adalah wilayah terbuka yang terbengkalai. Kebanyakan lahan-lahan tersebut adalah lahan pasca eksplorasi industri tambang, yang banyak ditemukan di Sumatra dan Kalimantan. “Kawasan bekas hutan yang terlantar di Indonesia kan banyak, bahkan jumlahnya bisa jutaan puluhan hektar,” ujarnya. Untuk itulah, lahan tersebut lebih baik dialihkan untuk penanaman tanaman biofuel yang rata-rata sangat cepat beradaptasi di lahan-lahan kritis.
Tahun lalu investor China juga telah bekerja sama dengan PT Bina Terpadu untuk membangun industri pengolahan minyak jarak pagar di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi pembangunan industri tersebut seperti yang disampaikan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi NTT, Gulam Husain, berada di kawasan industri Bolok Kupang dengan target luas lahan mencapai 281.438 hektar.
Akhir pekan lalu, pakar lingkungan hidup, Emil Salim mengatakan, energi biofuel semestinya menjadi prioritas terendah setelah seluruh alternatif sumber energi lainnya diberdayakan. “Harus dikembangkan dulu sumber-sumber energi lain seperti panas matahari, angin, dan sungai,” katanya dalam diskusi tentang “Global Warming” yang diselenggarakan Universitas Paramadina di Jakarta, seperti dikutip Antara.
Emil menuturkan, energi biofuel berasal dari pohon kelapa sawit sehingga membutuhkan banyak lahan untuk menanam tanaman tersebut. Hal itu terasa kontradiktif dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang luas lahannya relatif lebih sedikit dibandingkan luas lautannya. “Tanah di Indonesia seharusnya `diselamatkan` terlebih dahulu untuk mencukupi bahan pangan,” kata mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup itu.
Selain itu, Emil merasa kecewa karena tidak sedikit pohon kelapa sawit di tanah air yang ternyata tidak ditanam di tanah yang terdegradasi tetapi pada daerah hutan.
Pembicara lainnya, Juru Kampanye Iklim dan Energi Asia Tenggara untuk Greenpeace, Nur Hidayati mengatakan, kebutuhan untuk energi terbarukan seperti biofuel juga mempercepat laju kerusakan hutan di tanah air.
Suci Dian, Diterbitkan di Jurnal Nasional, 1 November 2007







