Sudahkah Anda Bersyukur

bersyukur

beberapa waktu lalu, saya dan suami ikut seminar hipnoterapi di Jakarta. Niatnya, mau coba cari lain yang bisa membantu suami atasi insomia beratnya. Syukurlah, suami kali ini dengan hati yang ikhlas (ikhlas kan bi?) setuju ikut. padahal biasanya dia ogah lho…

berharap banyak, kami relakan minggu sore meninggalkan anak-anak ke mpok nanny. saat tiba di lokasi acara di kawasan kemayoran, ternyata pesertanya lumayan banyak juga ya. Info panitia peserta kira-kira ada 300 orang.

saya gak akan banyak menulis tentang sesi seminarnya ya..biar gak ambil rejeki si hipnoterapi..hehe (alasan malas nulis banyak, takut gak dibaca). nah yang ingin saya ulas adalah sesi bersyukur di awal acara.

si pak D, instruktur hipnoterapi, meminta kita untuk berpasang-pasangan dengan orang yang tidak kita kenal. selama 10 menit, masing-masing anggota bergantian menyampaikan 30 hal yang ia syukuri selama hidupnya. kalau bisa ingat-ingat hal kecil yang selama ini terlupa untuk disyukuri. misalnya ni, “alhamdulillah pagi ini sudah memenuhi panggilan alam dan tidak ada halangan”, “alhamdulillah hari ini tidak terjebak macet”, “alhamdulillah hari ini masih bisa memeluk anak sebelum pergi”.

meski terlihat mudah, ternyata seluruh peserta setuju kalau awalnya susah untuk mencari 30 hal yang bisa disyukuri. jelas, kalau kita yang tinggal di jakarta ini terlalu fokus dengan hal-hal negatif ketimbang hal-hal positif di sekitar kita.

malah, peserta pasangan saya sampai kehabisan waktu untuk menemukan 30 hal yang ia bisa syukuri. padahal, sepertinya ia banyak masalah. “Terimakasi tuhan, kau telah menjauhkan saya dari lelaki yang jahat itu”, “Saya bersyukur saya punya teman-teman yang selalu mau mendampingi”…see..

nah, setelah sesi bersyukur itu saya benar-benar relaks lho..dan berfikir bahwa “ya seharusnya saya bersyukur..mengapa saya lupa”..jadilah sesi bersyukur ini menemani saya ketika sedang bad mood..alhamdulilah berhasil ternyata..

bagaimana dengan kamu…siap menuliskan 30 hal yang bisa disyukuri hari ini…ayo mulai…jangan malu-malu lho..bersyukur masih bisa kentut atau bersin aja dah bagus banget tuh..

Happy 3th Wedding Anniversary, dear..

setelah tiga tahun mengarungi biduk rumah tangga, makin jelas terlihat hidup berkeluarga itu tidak mudah. but, it’s fun…so fun..saya jamin anda yang suka tantangan akan setuju dengan saya.

saya sering mengumpakan pernikahan itu bagaikan upaya mendaki gunung. gunung beneran lho, jangan disamakan dengan bukit ya. ada masanya kita sangat mudah berjalan, tapi ada masanya ras putus asa untuk mencampai puncak merayu dan menggoda.

ada masanya, cuaca begitu mendukung upaya naik ke puncak. namun, ada saatnya badai angin menyerang bahkan ketika puncak sudah ada di depan mata. ya saya jadi teringat betapa ganasnya badai di lereng gunung merbabu, ketika bersama “abi agus” masih menjadi anggota mapala di kampus. saya sangat senang dengan cerita itu, karena menggambarkan betapa sesinerginya jalan pemikiran kami.

 

terima kasih tuhan atas tiga laki-laki yang kau titipkan di kehidupanku, alhamdulillah

 

curcol dikit ya…jadi di tengah perjalanan menuju puncak merbabu, rombongan diterpa badai angin yaaaangg sangat kencang. suhu juga sangaaat dingin, saya sampai tidak bisa merasakan tangan sangkin dinginnya. teman-teman lain memilih untuk membuat perapian, karena tak tahan dengan dinginnya. tapi saya dan abi agus, berfikir bahwa harus ada yang membangun doom (tenda) agar dapat terlindung dari terpaan angin kencang.

sayangnya, teman-teman tidak lagi mampu bergerak sangking dinginnya. berdua kami berupaya membangun doom. susah payah, kedinginan, dan akhirnya doom itu berhasil dibangun.

see….begitu juga biduk pernikahan. harus ada kesamaan tujuan dan misi, meski perbedaan mewarnai. saya melihat abi agus memiliki komitmen yang kuat tentang pernikahan, bukan sekedar karena “saya cinta kamu”, “saya sayang kamu”. karena buktinya bumbu satu itu tidak selalu bisa membuat masakan berhasil di masak. alias rumah tangga bertahan. lagipula, jika kita komit apapun halangan dan rintangan insyaalah bisa dilewati.

oh ya, satu lagi yang harus diingat untuk Anda yang akan memulai biduk rumah tangga. jika pasangan Anda orang Indonesia tulen, ingatlah bahwa menikah bukan hanya terjadi antara anda dan si dia. melainkan juga dengan keluarga besarnya. jadi sepertinya tidak ada salahnya jika anda juga harus bersusah payah sedikit menyenangkan keluarga si dia, dan tidak terlalu fokus menyenangkan dia..

so, thx you ya abi agus atas pernikahan ini..terimakasi karena sudah memilih umi, dan terimakasi atas dua benih cinta yang terindah dan teristimewa itu.

Mampukah Ku Mencintamu, Jakarta?

jika daftar kekesalan saya lebih banyak dari kekaguman, sudah pasti kamu tak layak saya cintai ya jakarta.

daftar kekesalah:
1. macet naudjubilah, para pemegang kekuasaan terlalu manut dengan pengusaha otomotif sampai-sampai gak mau membatasi jumlah kendaraan yang masuk di Jakarta.
2. banjir langganan, membuat saya berpikir berkali-kali punya rumah di Jakarta
3. biaya hidup mahal. ngojek gak sampai 5 km bayar 20-25 ribu. makan minimal sekarang 8rb-10rb.
4. tempat yang aman dan nyaman buat anak-anak dikit banget
5. asapnya sampai bikin kulit saya menghitam..jorok ihhh
6. tawuran dari massa kampung sampai sekolah. gak banget buat perkembangan anak
7. individualitasnya kenceng abies
8. Kau membuat saya kehilangan jati diri yang dulu saya sukai, karena harus bertahan hidup dengan kerasnya medan publik di Jakarta
9. macam-macam penyakit jiwa dan sosial bertebaran…iihhh serem
10.aroma politik kecium banget dan saya gak suka aroma itu

keunggulan:
1. punya banyak mall. sayang kantong saya tidak terlalu gemuk buat selalu belanja disana
2. banyak tempat hiburan seperti dufan, ancol, tapi lagi-lagi sayang masih gak pro masyarakat menengah ke bawah. mana tiap tahun naik harganya.
3. film-film baru cepat banget sampainya, gak perlu nunggu dua bulan kedepan
4. makanan variatif

hem kayaknya buat mikir unggulan kamu aja saya capek banget..so kayaknya kamu gak pantas saya cintai deh…udah ya, saya cuma mau tiga tahun lagi disini, selanjutnya say good bye…

Ia pergi

baru saja saya mengupload tulisan tentang Wang Yue…dan berusaha mencari fotonya di situs jejaring..namun saya mendapatkan kabar duka..Wang Yue meninggal dunia

selamat jalan Wang Yue sayang, cinta kami untukmu..Selamat Jalan Wang Yue sayang, cinta kami untuk mu

hamba memang tidak pantas menggugatmu Ya Allah. kebaikan mungkin ada di pilihanmu..hamba hanya berharap ia bisa menjadi simbol kembalinya rasa kemanusiaan di umat-umat mu ini…

selamat jalan wang yue sayang…semoga tidak ada lagi anak di dunia ini yang diacuhkan seperti mu..

Tragedi Wang Yue

awalnya saya hanya mengelus dada saat teman bercerita tragedi kecelakaan Wang Yue. “Ada anak kecil usia dua tahun di China ditabrak dua mobil box, dan tidak ada satu orangpun yang lewat disampingnya menolong, hingga orang ke 18 yang lewat langsung menariknya dari tengah jalan”. tragis, pikir saya waktu itu.

tetapi, saat sebuah koran nasional menyajikan urutan gambar CCTV kecelakaan anak yang kemudian diketahui bernama Wang Yue itu, saya tergelitik untuk melihat langsung di YouTube. cukup nekat saya pikir, tapi saya penasaran kenapa 18 orang itu tidak membantunya. di koran disebut suasana gelap. tapi, ah mas iya? seberapa gelap jalan di malam itu hingga seorang anak tergeletak di jalan dengan penuh darah tak terlihat.

saat menyaksikan detik-detik tragedi Wang Yue, saya tidak sanggup menahan derai air mata. meski saya dikantor dan disaksikan rekan kerja, air mata tidak dapat saya bendung. “Mengapa? mengapa mereka tidak membantunya?” gelap!!! jika gelap mengapa mereka bisa menghindarinya? “memangnya dia anak kucing”. ya Allah, perih hati hamba melihatnya. apalagi saat tangannya menggapai-gapai sebelum akhirnya mobil kedua melindasnya.. ya allah, mengapa kau tutup mata dan hati mereka?

hati saya pun berteriak, “Jangan menyerah Yue Yue, ibumu tidak menyerah, mereka yang membantumu tidak menyerah, kamipun tidak henti mendoakanmu..ku mohon jangan menyerah..dan Allah hamba mohon jangan kau bawa dulu malaikat itu, biarkan ia jadi pelajaran hidup bagi hamba-hambamu yang lain. jangan menyerah Yue Yue…jangan”

berbagai media nasional dan internasional, Facebook, Twitter dan lainnya dipenuhi berita Yue Yue. terakhir kondisinya kritis dan sistem otaknya mati. tapi saya tetap berharap yue yue tidak menyerah. banyak dokumen yang menunjukkan keajaiban tubuh seorang anak berjuang dalam keadaan kritis. dan mereka berhasil. “Ya yue yue kamu pun bisa menjadi salah satu keberhasilan itu”.

semoga, hilangnya rasa sosial itu tidak menular ke Indonesia. apapun alasannya, rasa kemanusiaan harus tetap dijaga. humanity….dan air mata saya terus menetes mengingat yue yue. pikiran saya tidak tenang menanti kabar terbangunnya yue yue dan menorehkan senyum untuk ibunya. “Yue yue, berjuanglah nak”..

Kerja Kantoran Picu Depresi

Depresi di kantor karena hubungan sosial yang tidak sehat

Depresi di kantor karena hubungan sosial yang tidak sehat

“Pssttt…loe tau gak gosip si A sama si F?”
“Kamu itu kerjanya apa sih!!?? gak becus!!”
“Waduh kemarin lupa absen, bisa-bisa gaji dipotong nih. arghhhh”

siapa bilang kerja itu enak? ayo, angkat jarinya. hehe..sedikit ya. enaknya paling tanggal-tanggal muda, setelahnya yang stress-lah, pusinglah, BT-lah, Bad Mood-lah, wah berbagai emosi negatif mewarnai dari hari senin sampai jumat. dalam 365 hari dikurangi hari sabtu, minggu dan libur nasional.

beban kerja di kantor bukan hanya fisik lho, karena ternyata beban pikiran paling besar pengaruhnya. suami saya, yang sudah lima kali pindah kantoran alias pindah kerja, sudah akrab sama yang namanya stress. kalo sudah begitu kayak kucing yang mau kawin deh, gak bisa diganggu..hehe..

nah, kalo sudah stress kesehatan badan juga ikut turun. jadi mudah sariawan, kena diare, kena migren, gak bisa tidur..emosi labil itu sudah pasti. buat sebagian orang adaptasi di tempat baru bisa mudah dilakukan, suami saya adalah yang sulit melakukannya.

stress tidak berhenti ketika melewati tiga bulan masa percobaan kerja. proyek yang mulai menumpuk, rekan kerja yang gak bisa kerja dalam tim, bos yang arghhh gak ngerti bawahan banget, sampai suhu ruangan kantor yang dingin abies bisa picu stress.

kalo stress ini tidak diatasi dengan baik, dan sejak dini, so pasti lama-lama bisa jadi depresi. psikolog membocorkan salah satu ciri Anda pekerja yang depresi…SUKA MELAMUN…

nah loh…coba ingat-ingat selama 12 jam kerja, banyakan kerjanya apa ngelamun? buka FB, ngetwit dan chating masih masuk aktivitas lho, jadi masih bisa dibilang aktif lah meski gak kerja (ups bela diri)..

kalo sudah begitu, jangan malu-malu untuk mencari bantuan. bisa dengan ngobrol ma sohib-sohib arisan, sama pasangan juga boleh lah, atawa cari ke RS. eit, kalo bicara masalah gangguan kejiwaan tidak harus ke RS jiwa lho. lebih benarnya datang ke psikiater. dan mereka yang datang ke psikiater bukan berarti “mad” ya..alias gelong..di luar negeri hal yang sangat wajar seseorang berkunjung ke psikiatri.

btw, tahu gak kalo di sejumlah perusahaan ada program pendampingan karyawan. mirip sama program guru BP saat sekolah dulu.

Fasilitas konseling yang sering disebut dengan program pendampingan karyawan (Employee Assistant Program) fungsi utamanya adalah untuk membantu karyawan dalam mengatasi masalah personalnya yang bisa mempengaruhi performa kerja, kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

Pelayanan ini diberikan gratis kepada karyawan dan anggota keluarganya, sebaliknya perusahaan membayar penuh penyelenggaran konseling untuk memberikan pelayanan tersebut. Dan jangan khawatir informasi kesehatan jiwa di program ini tidak akan bocor, kerahasiaannya sama dengan pelayanan kesehatan fisik.

sudah tahu dong kita punya hak untuk itu…tertarik untuk meminta perusahaan menyediakan fasilitas yang sama??? hehe..coba saja diajukan..who know your so lucky..

Dinas Sosial, Dimana Kreatifitasmu?

sepertinya masalah lonjakan penduduk baru di Jakarta, gak akan selesai dengan operasi yustisi aja ya?perlu aksi kreatif dan tepat dari dinas sosial untuk memperkecil arus migrasi itu. setidaknya, mereka yang hadir memiliki kompetensi dan skill yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis di Jakarta.

jangan lagi berfikir “apa saja bisa dijual di Jakarta. apa saja bisa jadi duit”. memang benar, tapi anda butuh kreatifitas, ketekunan, niat, dan kerja keras. ayolah, para sarjana S1 saja mulai sulit mencari pekerjaan, apalagi anda yang tidak memiliki “modal” sama sekali.

tapi, saya penasaran bisakah dinas sosial di jakarta aktif dan kreatif seperti di negara maju lainnya. mereka menjadi fasilitator dan mediator bagi para migran ini. seperti dalam tulisan saya di media Jurnal Nasional, dinas sosial setidaknya menyediakan fasilitas untuk meningkatkan pendidikan dan skill para migran agar sesuai dengan kebutuhan. sekaligus menjadi penyaring dan fasilitas untuk para pelaku bisnis.

gambaran saya, ketika “orang desa” datang ke Jakarta mereka segera mendaftarkan identitas yang berisi berbagai informasi skill ke dinas sosial. disana mereka bisa menunggu dalam seminggu, untuk mengetahui adakah lowongan yang sesuai dengan kemampuannya. Jobs DB nya dinas sosial Jakarta, begitulah gambarannya. selama seminggu itu, mereka juga mendapatkan penyuluhan, setidaknya cara yang tepat untuk memulai peluang di ibukota. misalnya bagaimana menulis surat lamaran, bagaimana menjual diri dalam wawancara, mengetahui skill apa saja yang sedang dibutuhkan DKI Jakarta dll.

tapi ada batasan. mereka hanya memiliki “jatah hidup” di Jakarta satu tahun, misalnya. tentu saja ada penampungan bagi mereka yang tidak memiliki keluarga, dan fasilitas dapur bersama untuk mengakomodasi mereka. lewat dari satu tahun, jika tidak ada kemajuan, mereka dipulangkan. dan jika mereka kembali lagi, harus memiliki kelebihan dibanding sebelumnya. dan dinas sosial memiliki teknik khusus untuk memonitoring mereka. teknologi sekarang saya rasa cukup canggih untuk itu.

berikut tulisan di Jurnal Nasional, yang saya harap segera terbit:

Kriminalitas Jakarta Tinggi:

Dinas Sosial Tidak Bekerja Maksimal

Menurunnya daya dukung hidup di Jakarta, bukan faktor tunggal pemicu meningkatnya tingkat kriminalitas. Ketidakhandalan Dinas Sosial Jakarta menyediakan fasilitas dan informasi yang cukup, khususnya seputar lowongan pekerjaan bagi para pendatang baru dan bertindak tegas menghadapi migrasi besar-besaran dari desa ke kota, ikut pula memicu.

Pengamat psikodinamika dalam masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), Lukman S. Sriamin mengatakan, kinerja Dinsos DKI Jakarta seolah-olah dilakukan dengan setengah hati terutama dalam menangani lonjakan pendatang baru di Jakarta. Kebijakan hanya sebatas memberikan denda bagi warga baru dalam operasi yustisi, yang menurutnya bagaikan operasi menyemai calon-calon pelaku tindak kriminal di Ibukota.

”Mereka yang datang tanpa tujuan, tanpa perencanaan yang matang, yang hanya berfikir ’yah, lihat nanti saja setelah tiba di Jakarta’, berpotensi besar melakukan tindak kriminal. Terutama setelah harapan mereka putus dan tidak memiliki solusi untuk bertahan di Jakarta,”ujar Lukman saat dihubungi, Jumat (07/10) lalu.

Tekanan hidup yang sudah pasti jauh lebih besar ketimbang di desa, tidak selalu bisa ditangani dengan baik oleh mereka yang baru datang dari desa. Jika kepribadian mereka tidak kuat, sudah pasti sangat mudah ’jatuh’. Bahkan, Lukman menggambarkan ketika putus asa sudah menghampiri, maka akan sangat mudah bagi mafia-mafia jalanan memberikan ’mimpi indah’. ”Mereka akan mudah dikendalikan, dibakar emosinya, bahkan dibeli dalam arti khusus untuk kepentingan individu atau organisasi tertentu,”katanya.

Itulah mengapa peranan dinas sosial sangat penting, terutama dalam mengawasi, memfasilitasi dan mengatur mereka yang berniat mengadu nasip di Jakarta. Lukman menilai tidak akan sulit bagi Dinsos untuk menyediakan fasilitas pendidikan bagi para pendatang baru Jakarta sekedar untuk mempersiapkan mereka memulai hidup di Jakarta.

Dengan begitu, kecil kemungkinan warga desa yang datang tidak memiliki bekal pendidikan, pengalaman dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan kota Jakarta. Fasilitas ini juga akan memudahkan pemerintah untuk memfasilitasi berbagai kegiatan bisnis di Jakarta yang membutuhkan tenaga kerja yang sesuai.

Namun ketika mereka tidak berhasil, maka tindakan tegas harus dilakukan. ”Beri mereka rentang waktu untuk menentukan apa yang akan dilakukan di Jakarta, selama itu pengawasan tetap dilakukan. Jika dalam rentangan itu mereka gagal, maka tidak ada jalan untuk kembali ke desa asalnya,”kata Lukman.

Ketegasan juga diharapkan dapat ditunjukkan oleh aparat penegak hukum. Kebiasaan aparat mudah melakukan lobi diluar prosedur hukum, memberikan contoh yang buruk bagi penduduk.  ”Ah, mereka yang ketangkap lagi apes saja,” kata Lukman menggambarkan apa yang ada dibenak warga saat melihat tindak kriminalitas di Jakarta.  dan, pemikiran demikian harus segera diperbaiki. “Tunjukkan bahwa penegakkan hukum ada di Jakarta. Di kota-kota maju saja masih kecolongan, apalagi Jakarta,”ujarnya.

 

Berfikir Negatif

Cinta hadir untuk memberikan harapan dalam hidup

Jujur. Saya tidak suka “dicap” senang berfikir buruk. Seudzon, begitulah katanya. sedih lho, dibilang begitu. meski saya mencoba berfikir positif, bahwa saya harus belajar juga untuk bisa dikritik.

dulu, saya memberanikan diri untuk menangis di depannya. hanya agar ia juga belajar bahwa “sesuatu” itu menyakiti saya. membuat hati saya terluka. membuat saya begitu “terkejut” dengan tema pembelajaran dalam rumah tangga ini. entah mengapa saya merasa menangis tidak lagi perlu di depannya. dan entah kapan saya memutuskan untuk membawa semua kesedihan itu dalam tidur.

menahan rasa itu tidak baik. emosi ada bukan untuk di tahan (saya benci lagu-lagu radio yang sekarang saya dengar sambil menulis, membuat ingin menangis saja). tapi ia untuk di atur. menemukan cara meluapkannya dengan tepat sehingga tidak membuat yang lain terluka.

diam juga bukan cara yang tepat. saya sadar itu. tapi ini cara saya mengelolanya. agar tidak keluar nama-nama binatang itu dari mulut ini. apalagi harus saya tujukan kepada dia yang saya sayang.

saya lebih senang, diam sejenak dan membicarakannya kemudian, ketika kita bisa berbicara. tapi…sepertinya saat itu hilang sudah. kita memilih untuk membagi waktu tersisa pada mereka buah hati kita.

tapi itu perlu. saya perlu waktu kita berbicara lagi. berbicara apa salah saya. apa yang memberatkan hati mu. apa yang membuatmu kesal. karena saya sangat berharap kita bisa belajar bersama-sama. jangan biarkan semua masalah menghilang dan akan kembali ketika salah yang sama terulang. karena sakitnya lebih dalam.

“Jangan berputus atas saya”…itu sangat penting.

haaaaahhh..bismilah,

“coba pahami, maklumi saja, tidak ada laki-laki lagi seperti dia saat ini..”

ya saya akan coba “lagi” memahami dan memaklumi. semoga dia melakukan hal yang sama dengan saya. Ya tuhan…hanya ada kata “bertahan” untuknya di hati saya..jauhkan kata lainnya.

Setahun ya?

ternyata dah setahun ya saya gak menulis di blog ini…makasi banget buat teman-teman yang sedia mampir dan meninggalkan komentar. maaf saya gak balas-balas..habis ada FB dan Twit jadi gak keperhatikan deh…

ok deh, mulai hari ini saya akan mulai berbagi unek-unek lagi dengan anda…siapkan telinga dan mata untuk menyimak ya..dan siapkan jari untuk mengetik komentar…

Pemerkosaan Itu Bukan Aib!! Jangan Sembunyikan

jumlah kasus pemerkosaan di negeri ini, atau dimanapun bagaikan fenomena gunung es. hanya mereka yang kuat dan mendapatkan dukungan, berani membela haknya. menjerat si pelaku dengan hukum. bukan menikahkan, bukan membayar ganti rugi…

berikut cuplikan tulisan saya tentang kasus pemerkosaan di KH Jurnal Nasional. semoga bisa mencerahkan..

“Koordinator Pelayanan Hukum LBH APIK Yayah Zuwariyah mengatakan, masih banyak masyarakat yang melihat kasus pemerkosaan sebagai salah satu aib, bukan sebagai tindak kejahatan yang harus diproses secara hukum. Akibatnya, daripada melaporkan ke kepolisian banyak keluarga korban yang memilih penyelesaian secara kekeluargaan. Hak korban pemerkosaan untuk mendapatkan keadilan pun akhirnya pupus bahkan sebelum ia melaporkan ke kepolisian.

”Masyarakat harus menyadari bahwa pemerkosaan adalah aksi kejahatan. Pihak keluarga dan masyarakat harus mampu melindungi hak korban untuk mendapat keadilan,”katanya saat dihubungi Selasa (27/09). Menikahkan korban dengan pelaku tanpa ada proses hukum lebih dulu, ataupun berbagai jenis penyelesaian kekeluargaan lainnya misalnya dengan mengganti rugi, bukanlah hal yang benar, kata Yayah. Karena, bagi masyarakat maupun pelaku tidak akan ada pendidikan efek jera.

Selain merasa hal itu aib yang harus ditutupi, banyak pihak korban yang salah kaprah tentang proses pengadilan. Seperti yang dijabarkan Yayah berdasarkan pengalamannya mendampingi berbagai korban pemerkosaan, keluarga terkadang berfikir bahwa proses pengadilan membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama. ”Mereka juga kerap khawatir proses pengadilan hanya akan menambah beban malu si korban. Padahal itu tidak benar, korban butuh dukungan, butuh orang-orang yang paham kondisinya,”kata Yayah.

Yayah menjelaskan, sepanjang proses pelaporan ke kepolisian dan pengadilan tidak sedikitpun dana yang harus dikeluarkan korban dan keluarganya. ”Jika ada aparat yang meminta ’dana pemulus’, laporkan. Karena sesuai peraturan, keluarga tidak perlu mengeluarkan dana,”tegasnya. Bahkan, saat proses pengadilan korban juga tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk jaksa penuntut.

Dana mungkin sedikit keluar jika korban dinilai butuh pendamping untuk membantu mengikuti proses pengadilan dan psikolog untuk menangani masalah psikologisnya. Dan, jika korban dinilai perlu tinggal di rumah aman untuk mendapatkan perlindungan dan pendampingan.

Pahami Hak Korban

Yayah mengatakan, dalam proses penanganan beberapa kasus terkadang ada aparat kepolisian ataupun pengadilan yang tidak berpihak pada korban bahkan cenderung memojokkan. Diantaranya dengan menganjurkan kepada korban untuk menyelesaikan kasusnya secara kekeluargaan.

Bahkan, saat proses pengadilan ada oknum pengadilan yang seakan-akan memojokkan korban. Misalnya, dengan mengajukan pertanyaan ”bagaimana rasanya saat diperkosa? Enak tidak saat disentuh?”. ”Korban terkadang dalam posisi serba salah karena ia hanya berhak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan diantaranya bahkan tidak berpengalaman melalui proses pengadilan. Pertanyaan hakim jadi membuat korban bingung dan terpojok,”kata Yayah.

Itulah mengapa, Yayah mendorong agar korban mendapatkan pendampingan untuk memahami hak-haknya dan membela haknya sendiri. Karena di beberapa kasus korban tidak bisa didampingi saat mengikuti proses pengadilan. Ia juga meminta agar para petugas pengadilan dan kepolisian menerapkan pendekatan-pendekatan yang tidak memojokkan, membingungkan dan menekan korban. ”Jangan memberi pertanyaan berdasarkan perspektif sendiri,”ujarnya.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.